Rabu, 09 Oktober 2013

PENGEMIS TERKAYA DI INDONESIA

Pengemis. Mungkin hanya mendengar kata itu saja, sobat langsung membayangkan seseorang yang kurus, kumal, dekil, berpakaian kotor dan compang-camping, bahkan hidup tidak layak. Sebagian bayangan anda memang tidak salah. Namun jika bicara soal penghasilan, sobat harus membaca artikel kami kali ini.Inilah Pengemis Terkaya Di Indonesia yang mau membuka rahasia nya.

Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk artikel kali ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui redaktur di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.



Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,'' ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan'', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ''keberhasilan'' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.

karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan.

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,'' ucapnya.


Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada tahun 2013 ini. 



sumber | edan77.blogspot.com | http://unik-aneh.lintas.me/go/kampunggosip.com/inilah-pengemis-terkaya-di-indonesia/



Selasa, 08 Oktober 2013

ARABICA ALIAS KLAMPIS, TIDAK PERLU TAKUT MERAWAT


Kalangan penggemar bonsai lebih mengenalnya sebagai Arabica (Arabika), meski nama lokalnya adalah Klampis, Klampis Ireng, atau Pung Hitam. Sosoknya memang meyakinkan sebagai bahan bonsai. Selain daunnya yang memang sudah kecil, karakter batangnya sangat kuat, sudah memperlihatkan kesan tua. Persoalannya, merawat Arabica gampang mati. Apa betul begitu?
Menurut Saudi, kalau memang niat menjadi penggemar bonsai harus tahu karakter pohonnya. Arabica dinilai sulit merawat karena tidak mengerti karakternya. Indonesia ini adalah negeri yang sangat beragam berbagai jennis pohonnya. Kita  harus mempelajarinya, dan  bukan menaklukkannya. Soal katakter pohon ini kadang dianggap sepele, tapi kadang-kadang malah dilewatkan.  “Kalau tahu-tahu mati jangan salahkan penjualnya,” ujar pedagang bonsai asal Tulungagung tersebut.

Ketika ditemui di stand bursa pameran bonsai di Cirebon belum lama ini, Saudi menjelaskan, Arabica itu merupakan salah satu bahan bonsai yang ideal. Batangnya mudah dibentuk, kalau mau melakukan wiring (pengawatan) enak meski cabangnya sudah agak besar. Gak usah dipuntir seperti dilakukan pada cemara (Acacia).  Meskipun, Arabica sama-sama berasal dari genus Acacia. Dan nama latinnya jugaAcacia arabica atau Acacia nilotica.

Koleksi Kemal P, Lamongan
Saudi mendapatkan Arabica langsung dari alam. Tentu saja dia membelinya dari para pemburu rekanannya. Menurut pengalamannya tidak usah membawa tanah asal. Cukup ditanam dengan media pasir Malang atau tanah murni. Tanpa kompos sama sekali karena malah akan menyebabkan tumbuhnya bakteri. Yang penting harus disirami terus agar cepat tumbuh tunas. Kalau hendak melakukan repoting ke pot yang lebih kecil, sarannya, lakukan pengurangan akar bertahap, agar tidak stress.

Sama-sama memiliki batang berwarna hitam, karakter Arabica lebih kuat daripada Mustam. Kalau Mustam masih terlihat lebih halus kulitnya, sementara Arabica nampak kasar, pecah-pecah, sehingga lebih mengesankan pohon yang sudah tua. Hal ini sangat cocok sebagai bahan bonsai yang baik.

Mati Cabang

Sementara itu, sebagai perbandingan, Arabica ternyata dikenal sebagai tanaman yang gampang mati cabang. Menurut Syaiful Arif, hal ini karena pertumbuhan cabang tidak merata. Kalau ada satu cabang yang tumbuh dominan misalnya, maka cabang-cabang yang lain langsung kalah. “Karena itu kalau ngelos cabang harus hati-hati, kalau tumbuhnya terlalu cepat harus dipotong, direm, untuk memberi kesempatan cabang lain tumbuh juga,” jelas  trainer bonsai ini.

Karakter batangnya sangat kuat
Syaiful mengakui, Arabica yang diambil dari alam gampang mati ketika ditanam di pot sebab karakter pohonnya sendiri memang banyak keringan. Karena itu disarankan, dongkelan yang diambil dari alam sebaiknya dibungkus dengan plastik untuk mencegah penguapan. Cukup dilubangi kecil-kecil sebagai jalan pernafasan. Dibiarkan selama 1-3 bulan sampai dengan tumbuh tunas-tunas baru. Kondisi tertutup ini juga sekaligus untuk memulihkan akar yang habis terpotong.

Mengenai penyakitnya, biasanya yang suka menyerang adalah ulat bulu (paling banyak) dan cabuk. Cara mengatasinya cukup disemport insectisida. Sedangkan perbanyakannya, sebetulnya bisa dengan biji, tapi terlalu lama. Cangkok juga bisa tapi sulit.  Penggemar bonsai lebih suka membeli bakalan yang berasal dari alam saja.  

Aslinya Arabica memang memiliki duri yang tajam-tajam. Tentu saja untuk kepentingan bonsai harus dipotongi bersamaan dengan pengawatan. Jika sudah jadi bonsai, duri itu sudah tidak ada lagi, kecuali pada cabang yang tumbuh baru.  Ada yang bilang, pemotongan duri ini agak emnghambat pertumbuhan pohonnya.


Klampis di bursa Saudi
Sementara itu, keberadaan Arabica di alam bebas malah dianggap pengganggu. Pihak Taman Nasional sampai rela mengeluarkan biaya besar untuk membasmi pohon hitam yang cepat menyebar ini. Di TN Baluran, Arabica dikatagorikan sebagai “tanaman sekat bakar”. Dalam Jurnal Duta Rimba tahun 1990 pernah ditulis, bahwa pada mulanya Arabica ini ditanam di TN Baluran sejak tahun 1969. Namun spesies ini terkenal lincah sehingga justru mendominasi vegetasi savana dasn mendesak rerumputan yang menjadi pakan hewan herbivora. Bayangkan kalau untuk memusnahkan Arabica di TN Baluran diserahkan saja pada pemburu bonsai. Pasti bisa mengurangi biaya yaa... (*)


Sumber : Jelajah Bonsai


Senin, 07 Oktober 2013

KIAT MENUTUPI BEKAS POTONGAN

Untuk melakukan training bonsai, tidak terhindarkan harus memotong cabang, bahkan juga batang utama. Persoalannya, bekas potongan itu menyisakan bekas yang mengganggu penampilan. Bekas potongan itu meninggalkan bekas di bagian tepinya yang menebal, seperti bibir tebal, mbendhol. Bagi penggemar bonsai yang cermat, hal ini dianggap kurang perfect, tidak indah, dan mengganggu kesempurnaan sebagai sebuah bonsai.


Sebagaimana diketahui, bahwa bonsai yang baik itu bukan sekadar pohon besar dalam bentuk mini. Tetapi harus nampak kesan bahwa bentuk mininya itu seolah-olah terjadi secara alami, bukan hasil rekayasa manusia. Itulah sebabnya sebuah training yang berhasil manakala hasiltraining itu sudah tidak terlihat lagi bekasnya. Pada kompetisi bonsai kelas bintang misalnya, kesempurnaan training ini justru menjadi perhatian utama yang menentukan nilai. Sebuah bonsai yang dibentuk dengan wiring (pengawatan) misalnya, pada saat kontes harus terlihat seolah-olah tidak pernah mengalami pengawatan.

Demikian pula bekas potongan batang, akan lebih baik kalau bekasnya tidak kelihatan kalau batang itu pernah dipotong. Persoalannya, semakin besar sebuah batang yang dipotong, bekas potongan itu cenderung makin nampak. Itulah sebabnya, kolektor bonsai Husni Bahasuan tidak puas kalau hanya membiarkan bekas potongan itu kelihatan mencolok. Melalui trainer-nya, Samsul Arief, dilakukanlah sebuah rekayasa agar bekas potongan itu sesedikit mungkin meninggalkan bekasnya.

Caranya, begitu batang itu dipotong secara rapi sesuai dengan keinginan, kemudian dibungkus dengan lakban plastik yang bening sampai dengan seluruh permukaan bekas potongan itu tertutup. Dengan cara ini maka bekas luka akibat dipotong itu dapat menutup tanpa harus meninggalkan bekas seperti bibir tebal. Pertumbuhan kulit dan kambium bekas potongan akan dipaksa mengarah ke dalam karena sudah dikondisikan oleh bungkus plastik tersebut. Lagi pula, dengan adanya bungkus plastik maka waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka bekas potongan menjadi lebih pendek. “Bisa hemat waktu setengahnya,” ujar Saiful.

Dalam kesempatan terpisah, Teddy Jabrix dari Tegal menambahkan, bahwa bekas potongan itu akan cepat menutup kalau di bagian atasnya sengaja dipelihara cabang. Keberadaan cabang inilah yang akan memacu suplai makanan ke daerah itu sehingga mempengaruhi penutupan kambium pada bekas potongan tersebut. Selain itu juga tergantung jenis pohonnya. Untuk jenis-jenis pohon bergetah, seperti ficus, tentu lebih cepat menutup bekas lukanya.

Salep Kambium

Selain cara alami, kalau mau praktis, sudah ada salep khusus yang digunakan untuk menutup bekas luka agar kambium cepat tumbuh. Menurut Trias, yang meproduksi salep tersebut, dengan menggunakan salep kambium maka dapat dihemat waktu hingga empat kalinya, dibanding kalau dibiarkan begitu saja. Lagi pula dengan membiarkan bekas potongan sangat rentan mengundang bakteri dan penyakit.

Selama ini memang sudah ada salep semacam itu, produksi Taiwan dan Jepang. Namun harganya kelewat mahal. Lagi pula, menurut penuturan sejumlah pengguna, salep yang menempel itu bisa mengeras seperti batu. Salep produksi Kediri itu hanya dijual Rp 60 ribu untuk botol 300 cc. Cukup satu kali oles bisa bertahan hingga 10 tahun. Sementara salep impor dari Jepang Rp 150 per 200 cc, dan yang dari Taiwan 250 ribu. “Cuma produk mereka dikemas seperti pasta gigi, jadi lebih praktis,” ujar Trias yang mengaku akan meniru kemasannya.

Ditemui di sela-sela pameran bonsai di Cirebon, Trias menurutkan, bahan dasar salep tersebut berupa Asam Traumalin, lateks, antibodi dan pewarna, untuk merangsang penutupan kambium. Dengan demikian luka cepat kering, anti bakteri dan hindari penguapan. Soal warna ini nampaknya diperngaruhi selera konsumen. Ada yang suka warna kemerahan, sehingga menyerupai bekas Jin. Ada yang warna netral, atau hitam seperti produk Jepang.  

Trias sendiri mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan kimia untuk membuatnya. Kebetulan dia memiliki pengalaman soal morfologi ketika bekerja di industri pertanian dan pengembangan bibit tanaman.


Meski hanya satu-satunya produsen semacam di dalam negeri, namun tingkat penjualannya boleh dibilang lambat. Sebab satu botol dapat digunakan selama satu tahun. Karena itu Trias juga memproduksi pupuk perangsang tunas, pemacu buah dan pemacu tunas. (henri nurcahyo)



Sumber : Jelajah Bonsai


Minggu, 06 Oktober 2013

BONSAI DAN PENJING MENURUT ROBERT STEVEN

Beberapa orang mengatakan bahwa bonsai saya tercemar penjing , dan bahwa penjing saya tidak otentik . Sebelum lebih lanjut , saya ingin menjelaskan perbedaan antara penjing dan bonsai .

Apakah penjing sama seperti bonsai ? Apakah ada perbedaan dalam konsep dan filosofi ?

Jawabannya adalah : Ya - dan Tidak!

Hal ini tergantung pada konteks yang kita bicarakan . Hal ini telah lama menjadi isu kontroversial karena ada beberapa artikel yang ditulis tentang penjing oleh sumber yang kompeten dari Cina . Kebingungan mengenai hal ini dapat dilihat dalam buku-buku , artikel , dan dalam diskusi thread forum online . Dalam kasus ini dua seni dianggap sama - hanya masalah terjemahan - tetapi pada waktu lain mereka disebut sebagai dua bentuk seni yang berbeda . Jadi apa adalah kebenaran ?

Mari kita mulai dari pemahaman dasar dari kata-kata , " bonsai , " ( Jepang) dan " penjing " ( Mandarin ) . Pen = pot , jing = view atau landscape . penjing berarti " lanskap dalam pot " . Bonsai di Jepang berarti " ditanam dalam pot , " yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Cina adalah penjai atau penzai . Ini berarti " tanaman dalam pot . " Setiap tanaman yang ada di pot disebut penjai . Jadi penjing tidak memiliki arti yang sama seperti bonsai , seperti yang kita mengerti hari ini. Apa yang kita sebut bonsai , dalam bahasa Mandarin disebut shujuang penjing . Dalam artikel dan diskusi, shujuang kata biasanya dibiarkan pergi, meninggalkan hanya penjing kata. Jadi , dalam konteks yang sangat umum, bonsai adalah sama dengan penjing karena kita semua tahu apa yang sedang kita bicarakan - dengan menghilangkan shujuang kata. Namun dalam konteks tertentu , penjing berbeda dari bonsai .

Penjing memiliki konteks yang lebih luas dalam bentuk seni dengan nuansa sendiri yang spesifik . Shujuang penjing ( bonsai ) adalah salah satu gaya dalam seni penjing yang lebih luas . Ada Shanshui penjing (rock penjing ) , bigua penjing ( dinding- menggantung penjing ) , shuihan penjing ( air dan penjing tanah ) , Shushe penjing ( pohon dan batu penjing ) - dll - Filosofi dasar penjing adalah " Yuan yu je zan , Gao yu je zan , " yang berarti " Terinspirasi oleh alam , mengagumi lebih unggul dengan alam . "

Dengan penjing kita mencoba dan menciptakan keindahan alam tanpa menghilangkan ketidaksempurnaan alam . Ada banyak kebebasan kreatif dan alami dalam bagaimana artis dapat melakukan hal ini dengan penjing . Jiwa penjing terungkap lebih banyak di seluruh presentasi , pesan tematik , simbolisme dan puisi . Presentasi alami , tanpa terlalu banyak estetika tergantung pada detail anatomi pohon . Penjing terlibat lebih dengan ekspresi subyektif, dengan referensi emosional yang sangat kuat individu. Kesempurnaan anatomi bukan persyaratan utama dalam penjing karena alam tidak sempurna . Keterampilan rekayasa teknik penting untuk bonsai tidak begitu penting dalam penjing . Sebaliknya , penerapan keterampilan harus relevan dengan pohon hanya agar berhasil menyampaikan pesan tematik untuk pemirsa . Inti dari seluruh kepala sekolah dalam Penjing adalah " Hua jong Anda se, se jong Anda yu , Jin jong Anda dong , dong jong Anda diao , " yang berarti " Di dalam gambar , ada puisi , dalam puisi , ada makna , dalam keheningan , ada gerakan , dalam gerakan , ada ritme . " aspek tujuan penjing adalah mengikuti fenomena ketidaksempurnaan alam. Aspek subjektif didasarkan pada keseimbangan penyajian saat ditangkap dari alam dengan pesan implisit tema . Dalam penyajian pesan , nuansa dan simbolisme harus digunakan untuk aksen keseluruhan presentasi . Fakta ini mengharuskan imajinatif interpretasi oleh artis dan penampil .

Apa yang saya lakukan dengan pekerjaan saya sendiri adalah untuk menggabungkan aspek obyektif dari bonsai dengan aspek subjektif dari penjing , keindahan penyempurnaan struktural bonsai dengan inner beauty dari presentasi simbolis penjing , semua untuk meminjamkan nuansa unik untuk terjadi. Menurut pendapat saya , istilah "asli " ​​tidak memiliki relevansi dengan seni. Seorang seniman harus mampu membuat pernyataan sendiri karakter dan identitas. Saya tidak mencoba untuk menciptakan gaya saya sendiri , melainkan berusaha untuk menemukan , kemungkinan baru yang inovatif berbasis pada aplikasi saya sendiri konsep estetika . Tidak ada yang mutlak dalam seni dan keindahan . Untuk apresiasi kreasi seni terjadi harus ada interaksi emosional antara obyek seni dan penampil. Hal ini memerlukan komunikasi antara obyek seni dan penampil.

Jika ada rasa China yang kuat dalam pekerjaan saya itu hanyalah sebuah refleksi dari selera pribadi saya dan minat dalam filsafat Oriental , seperti kaligrafi Cina puitis atau puisi Tang sentimental dan melankolis .
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya , seni adalah sesuatu yang hidup yang terus menerus berinteraksi dengan kehidupan melalui orang-orang yang melihatnya . Media bonsai juga merupakan subjek hidup yang berubah sesuai dengan aturan-aturan alam dan hortikultura . Jadi aturan seni bonsai didasarkan baik pada aturan fenomena alam dan keinginan konvensi individu dan sosial . Definisi saya tentang keindahan mungkin tidak sama dengan definisi orang lain keindahan . Interpretasi dan persepsi kecantikan yang sangat individualistik . Hal ini tergantung pada pemirsa latar belakang , pengetahuan , budaya , nilai-nilai sosial setempat , pengalaman , bahkan kondisi saat emosi pemirsa .

Pekerjaan saya adalah refleksi dari perasaan pribadi saya dan sikap . Dalam membuat bonsai , saya tidak terlalu peduli dengan tujuan akhir , melainkan dengan proses yang menyenangkan. Saya menikmati proses lambat mengungkapkan karakter dan identitas pohon - sebuah proses yang membawa kehidupan saya ke paralel dengan perjalanan hidup pohon . Ini semacam usaha lebih merupakan proses meditasi aktif dan budidaya hubungan soulful dengan media artistik , bukan hanya eksplorasi dangkal medium . Komunikasi antara media saya dan saya mungkin tidak berlangsung dengan komunikasi verbal , tetapi ada gema pemahaman , tetap.


Sumber : The Bonsai Blog of Robert Steven

Sabtu, 05 Oktober 2013

HEWAN TERMAHAL

Anak Singa Putih (White Lion Cubs) 
Harga : $138,000    

Ini yang paling mahal. Singa putih seperti dongeng yang sangat2 langka karena gen-nya yang resesif tapi ternyata tidak termasuk albino. Warna matanya hampir sama dengan singa umumnya, lapisan pigmen dan kulitnya yang tidak. Karena harganya yang mahal, permintaan yg tinggi, perawatan, dan kelangkaannya, singa putih termasuk salah satu hewan di dunia yang paling sulit didapatkan. 








Chimpanzee 
Harga : $60,000-$65,000   

Simpanse adalah primata yang sangat pintar dan paling dekat kekerabatannya dengan manusia. Beratnya sekitar 52 kg, jenis jantan lebih besar dibanding betina. Habitat aslinya di Afrika Tengah dan Afrika Barat. Meski terancam punah, binatang ini masih dilegalkan di beberapa negara bagian. 















Lavender Albino Python (Betina) 
Harga : $20,000   

Ular bermata merah ini berwarna lavender dibalik pola2 kuningnya yang menggetarkan. Disediakan pula oleh Bob Clark. Kelangkaannya membuat permintaan ular ini sangat tinggi. 












Reticulated Albino Type II Tiger Python 
Harga : $15,000   


Bob Clark lagi2 mengembangkan spesies yang langka. Ular ini dijual $15,000 per ekor. Sangat langka. Dominasi pola harimaunya yang membuat python ini sangat populer di dunia ular. 














Hyacinth Macaw 
Harga : $6,500-12,000   


Semua Macaws sangat mahal. Hyacinth Macaw menampilkan warna indah yang begitu menggetarkan. Biasanya dibandrol $20,000 sepasang. Secara fisik, burung2 ini panjangnya sekitar 1 meter dan memiliki warna biru terang. Sayapnya mengembang sampai 1,2 meter 
















Striped Ball Python 
Harga : $10,000   


Master Python Breeder, Bob Clark (nama ini akan sering saya sebut berikutnya) menyatakan bahwa dia mempunyai phyton bola-bergaris yang sangat eksklusif ini. Garis utamanya yang membuat binatang ini sangat unik. Lebih jelas lagi, bola-bergaris ini menampilkan garis punggug warna kuning dengan tepi warna hitam. Sungguh, membedakannya dari ular2 lain. 










Monyet Debrazzas 
Harga : $10,000   


Monyet ini mudah dikenal melalui janggut putihnya yang khas dan bulu abu2nya yg kekuning2an. Umurnya sampai 22 tahun. Harganya yang mahal bagi sebagian orang tidak sebanding. Banyak orang kecewa ketika bayi primata yang jinak dan lembut itu berubah menjadi ganas dan tak tertebak ketika dewasa. 














Mona Guenon 
Harga : $6,000   


Habitat aslinya di dalam hutan tropis Afrika Barat, meskipun binatang ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi hutan apapun. Oleh karena itu, disamping ijin dan lisensi khusus untuk memilikinya, binatang ini tidak termasuk yang terancam bahaya. 
















Kucing Sabana 
Harga : $4,000-$10,000   


Dibiakkan dengan proses yang hampir sama dengan kucing Bengali, kucing Sabana adalah hasil kimpoi-silang antara kucing liar (serval) Afrika dengan kucing rumah. Kucing Sabana lebih sulit dibiakkan, mengingat serval Afrika beratnya 18 kg, liar, dan mengawinkannya dengan kucing rumah yang lebih kecil adalah problem tersendiri. Masa hamil 2 hewan ini pun berbeda. Karenanya, kucing Sabana lebih langka dan mahal. 









Chinese Crested Hairless Puppies 
Harga : $4,000-$5,000   


Anjing ini beratnya 2 sampai 5.5 kg. Sangat bersemangat, siaga, dan bersahabat. Termasuk yang paling langka, anjing ini mudah tersengat sinar matahari. Asalnya dari Afrika. Hidupnya berkisar antara 10 sampai 12 tahun. Dan kabarnya, selama itu, anjing ini bisa diandalkan sebagai sahabat yang sangat menyenangkan. 















Sumber Artikel: http://www.didunia.net/2012/11/hewan-hewan-termahal-di-dunia.
Sumber: http://www.unikgaul.com/2012/11/10-hewan-termahal-di-dunia.html



Jumat, 04 Oktober 2013

PERAWATAN TANAMAN

JENIS PENYAKIT TANAMAN HIAS

Penyakit yang menyerang tanaman hias pada umumnya disebabkan oleh dua penyebab utama yaitu jamur dan bakteri. Serangan jamur lebih sering dijumpai daripada serangan bakteri. Jamur berkembang biak dan memperoleh makanan dari tanaman. Mereka mudah memperbanyak diri dengan miselium dan spora. Pencegahan serangan penyakit bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan tumbuh tanaman, media tanam yang steril dengan PH yang tepat, menjauhkan tanaman yang terserang penyakit dari tanaman yang sehat serta penyemprotan fungisida/bakterisida secara bekala.
Berikut adalah beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias :

1. Busuk Akar

Busuk akar disebabkan oleh serangan jamur Phytium.Sp. Busuk akar terjadi karena media tanam terlalu basah dan berkelembaban tinggi. Air yang terlalu lama menggenang menyebabkan media menjadi becek dan dalam waktu singkat menyebabkan akar menjadi busuk, daun menjadi pucat, layu lalu busuk.

Pencegahan yang paling penting adalah dengan menggunakan media tanam yang porous, steril dan menjaga agar media tidak terlalu lembab dan basah berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka segera bongkar media, buang akar yang terserang, lalu oleskan/spray fungisida seperti Dythane atau Antracol. Lalu tanam kembali kedalam media baru yang porous dan steril.

Pencegahan dan penanganan tanaman yang terserang busuk akar bisa pula dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik seperti Previcur N dengan dosis 2 ml/Liter.

2. Layu Fusarium

Layu Fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysporium. Layu Fusarium terjadi karena media tanaman terlalu masam dan basah/lembab berlebihan. Gejala serangan ditandai dengan memucatnya tulang daun sampai berubah menjadi coklat keabu-abuan, kemudian diikuti dengan menunduknya tangkai yang membusuk. Apabila perbatasan antara akar dan batang dipotong, maka akan terlihat cincin cokelat kehitaman diikuti busuk basah pada berkas pembuluh.

Pencegahan yang perlu dilakukan adalah dengan cara mencegah media tanam basah/becek terlalu berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka gunakan fungisida Derosal 500 SC dosis 2 ml/Liter, atau Delsane dosis 2 Gr/Liter, atau Folicur 25 WP dosis 2 Gr/Liter. Apabila serangan sudah cukup parah, maka sebaiknya terapi fungisida diikuti dengan penggantian media tanam yang steril.

3. Layu Bakteri

Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Erwinia Coratovora. Bakteri ganas yang mampu merusak tanaman dalam waktu singkat. Serangan layu bakteri ditandai dengan melunaknya daun dan batang, seperti habis terkena air panas, berwarna cokelat dan mengeluarkan bau yang busuk, karena terjadi kerusakan jaringan tanaman. Bagian tanaman yang terserang akan mengeluarkan lendir putih, kental dan lengket.

Pencegahan yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan tanaman, hindari kelembaban yang terlalu berlebihan dan jangan sampai membiarkan media terlalu basah dalam waktu lama. Apabila serangan telah terjadi, maka hal paling awal yang harus dilakukan adalah membuang bagian tanaman yang terserang lalu dibakar, agar tidak menular kepada tanaman yang sehat. Jauhkan tanaman yang terserang dari tanaman yang sehat. Lalu semprot tanaman dengan bakterisida Agrept dosis 2 gr/Liter pada seluruh bagian tanaman. Untuk lebih memastikan efektifitas treatmen yang kita lakukan, maka sebaiknya segera ganti media tanam dan pot dengan yang baru dan steril.

Untuk serangan yang cukup serius, maka gunakan Agrept dosis 2gr/Liter dicampur dengan fungisida Folicur 250 EC dosis 2ml/Liter. Bahkan beberapa hobiis menggunakan cara mencabut tanaman dari media, dicuci bersih lalu direndam dalam larutan tadi sampai 1 jam.

4. Bercak Daun

Bercak daun disebabkan oleh jamur Botrytis Sp. Cirinya adalah munculnya bercak di daun. Bercak tersebut langsung menyambung dengan warna asli daun yang sehat. Bercak tersebut lama kelamaan akan membusuk.

Seperti pada penyakit tanaman lainnya, maka cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan serta menjaga agar media tanam tidak basah secara berlebihan.

Apabila serangan sudah terjadi, maka buang bagian tanaman yang terserang, lalu lakukan penyemprotan fungisida Sistemik macam Folicur 25 WP dosis 2 gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.

5. Antraknosa

Penyebabnya adalah jamur Colletotrichum Gloesporioides yang mula-mula menyerang seludang bunga dengan gejala munculnya bercak kecoklatan. Pada lingkungan dengan kelembaban tinggi, bercak tersebut semakin meluas, tampak seperti berair dan mengalami kerusakan atau nekrosis. Jika dibiarkan, penyakit akan menjadi semakin parah yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Apabila serangan sudah terjadi, maka perlu dilakukan penyemprotan fungisida seperti Dythane 2 Gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.

6. Bercak Kuning

Bercak kuning sering menyerang Anthurium dan telah menjadi momok yang menakutkan bagi pekebun dan hobiis. Anthurium yang terserang penyakit bercak kuning umumnya sulit disembuhkan, karena penyakit ini sangat cepat menyebar ke seluruh tanaman.

Mula-mula muncul noktah kecil berwarna kuning pada daun yang semakin lama semakin lebar, hingga seluruh permukaan daun anthurium tertutup warna kuning. Setelah satu daun terserang, maka daun-daun yang lain tinggal menunggu giliran, sampai semua kuning dan akhirnya tidak bisa diselamatkan.

Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab penyakit ini. Para hobiis menganggap penyakit ini bersifat multifactor seperti media terlalu lembab, aliran udara tidak lancar, komposisi media kurang tepat dan kelebihan pupuk kandang.

Meski belum pasti disebabkan oleh jamur, tetapi pengendalian dengan menggunakan fungisida patut dicoba. Cara paling ekstrim yang bisa dilakukan adalah menggunduli semua daun tanaman yang terserang, lalu semprot dengan larutan fungisida. Anakan yang muncul nantinya diharapkan akan menjadi tanaman yang sehat.

Demikian beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias. Karena umumnya serangan penyakit ini disebabkan oleh lingkungan tanaman yang kurang bersih serta media tanam yang becek dan kurang steril, maka tindakan pencegahan dengan menjaga lingkungan tanaman yang bersih dan sehat, memperhatikan sirkulasi udara disekitar tanaman serta menggunakan media tanam yang porous dan tidak becek berlebihan, selayaknya diperhatikan. Semoga membantu.


Sumber :
1. Trubus Infokit, Aglaonema - Trubus
2. Trubus Infokit, Adenium - Trubus
3. Mengenal dan Merawat Anthurium Daun, Hendra Tanjung & Drs. Agus Andoko – Agromedia Pustaka

Kamis, 03 Oktober 2013

KESEDERHANAAN BONSAI

HASIL OBROLAN DI SORE HARI

Ketika diskusi tentang bonsai di rumah Mas Warsis, ada dua tokoh bonsai Tuban, Mas Warsis dan Pak Supari. Inilah pendapat mereka :

Pak Supari 
Bonsai bisa digunakan sebagai filsafat hidup mulai dari akar samapai daun dan buah. Kita kadang malu terhadap tanaman bonsai, karena bonsai bisa dijadikan contoh sebuah kesederhanaan. Kalau kita punya tampilan seperti bonsai maka tampil seperti apa adanya. Kadang-kadang kita punya niat yang tidak sesuai dengan hati nurani maka kita harus cepet-cepet dipotong seperti memotong cabang tanaman bonsai yang tumbuh tidak sesuai kehendak kita.

Mas Warsis
Bonsai biarlah tumbuh apa adanya. Ikuti saja alurnya dan kita gerakkan sedikit saja. Karena jika bonsai kita paksakan akan kurang baik hasilnya. Seperti orang yang punya hidung mancung kedalam maka kita tidak perlu risau terhadap hidung tersebut. Manfaatkan hidung yang ada sesuai kodratnya, tidak usah dirubah, sehingga akan muncul sebuah keharmonisan tatanan yang ada. 

Karena waktu sudah sore dan mendekati sholat maghrib maka kami bertiga berpisah. Semoga obrolan ini bisa memberikan sedikit ilmu para penggemar bonsai di Indonesia dan manca negara.


by : Bonkei Siwalan Club