Rabu, 11 Desember 2013

BIDANG DAN RUANG

Serial Bonsai Art

BIDANG

Penataan gerak irama garis pada anatomi bonsai terbagi pada bidang-bidang tertentu, yaitu bidang anatomi akat, batang, cabang, ranting, daun dan disamping itu terdapat pula bidang untuk faktor pendukung lainnya.


RUANG

Bonsai adalah seni tiga dimensi, disini penataan ruang menjadi salah satu faktor pendukung yang sangat penting untuk kelengkapan dimensi, ada dua pengertian masalah ruang, yaitu : ruang terisi dan ruang kosong.

Ruang terisi adalah susunan dari kelompok kerimbunan daun dan lainnya adalah ruang kosong, ada sebuah ungkapan "kosong tapi ada" maksudnya ruang kosong yang diolah tanpa terhalangi oleh kerimbunan daun, akan menimbulkan kekuatan imajinasi mengenai kedalaman dan ini akan pula menguatkan bentuk penampilan tiga dimensi, oleh karena cukup jelas terlihat struktur dari posisi dan gerak irama anatomi.








Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre





Selasa, 10 Desember 2013

PAMERAN BONSAI DI NORT CAROLINA


Pada tanggala 7 Desember 2013 dan 8 Desember 2013 Pameran Bonsai Pertama pada Musim Dingin di Silhouette Pantai Timur. Tepatnya pameran diselenggarakan di David H. Murdock Research Center Concord, North Carolina , di Nort Charlotte . Pameran Bonsai yang elegan ini disponsori oleh Steve Zeisel , Direktur Nutrition Research Institute . Ditempat ini juga ditampilkan batu marmer untuk lantai dan dinding dari tambang setempat di Italia. Dan atap gedung dengan menggunakan ukiran Michelangelo.



Bonsai yang ditampilkan bonsai yang dianggap sudah matang. Keindahan pohon betul-betul ditampilkan. sehingga pemirsa dapat belajar dan menghargai keindahan tunas , kulit dan bentuk. Tidak ada bekas luka kawat, yang sering tidak terjadi pada tanaman bonsai.  Hal ini menunjukkan seberapa baik pohon-pohon telah dilatih dan telah berusia selama bertahun-tahun.


Tiga puluh peserta pameran dengan sebanyak 100 pohon bonsai. Para pemirsa bisa menikmati alam miniatur . Para peserta membawa berbagai bahan tanaman dari bibit muda untuk berkembang dengan baik,  disamping itu dilengkapi dengan batu dan pot keramik serta perlengkapan untuk pembuatan bonsai . 


Juga menampilkan karya bonsai terkenal yaitu  Shohin Bonsai .



Senin, 09 Desember 2013

RITME DALAM BONSAI

Serial Bonsai Art

Ritme
Adalah gerak irama garis, pengaturan karakter garis yang diterapkan pada anatomi bonsai akan menghasilkan keindahan dan daya pesona yang berisikan kesan dan pesan tersendiri, gerak irama garis tersebut dapat berupa bentuk dan arah.

Bentuk Irama Garis
Bentuk beraturan dan bentuk tidak beraturan.

Arah Irama Garis 
Searah, tidak searah, kebawah, keatas dan mendatar.








Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre





Sabtu, 07 Desember 2013

GARIS BONSAI

Seri Bonsai Art

Garis merupakan unsur yang cukup penting dan mendasar pada waktu, proses pembuatan sebuah karya untuk menyatakan expresi,  keadaan, karakter serta ungkapan emosional. Keberadaan dan kekuatan garis tersebut dapat dilihat nyata disetiap bagian anatomi bonsai yang dimulai dari akar, batang, cabang, rating dan daun yang diolah menjadi bentuk kesatuan secara keseluruhan.




 


Pengelolaan anatomi dilakukan dengan penataan bentuk-bentuk garis yaitu :

Bentuk Lurus dan Bentuk Melengkung
yang mana setiap bentuk garis mempunyai karakter sendiri.

Karakter Garis Bentuk Lurus
adalah formal, sederhana, kaku, statis, keras dan diibaratkan sebagai lambang kejantanan.

Karakter Garis Bentuk Lengkung
adalah informal, luwes, dinamis, lembut, dan biasanya diibaratkan sebagai lambang kewanitaan.



Disamping itu ada pula perpaduan bentuk garis lainnya seperti :
Lurus dengan lurus atau zigzag : energik dan agresif
Lengkung dengan lengkung atau liuk : lambat, lembut dan pasif
Lurus dengan lengkung atau tidak beraturan : santai, alami, dan dinamis.



Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre



Jumat, 06 Desember 2013

BENTUK

Seri Bonsai Art


Secara keseluruhan bentuk penampilan anatomi bonsai selalu berorientasi pada struktur tiga dimensi, yang mempunyai tiga prientasi ukuran yaitu : panjang, lebar dan tinggi. Bentuk ini merupakan satu kesatuan dari susunan keseluruhan anatomi pohon.




Sumber : Green Grow Bonsai Training Centre




Kamis, 05 Desember 2013

BELI BONSAI BY JEJARING SOSIAL

Pernah kita membeli bonsai melihat jejaring sosial ?

Sistemnya sebuah kepercayaan.

Karena pembeli harus mengeluarkan duitnya dulu, baru barang dikirim !

Mungkin barang lain juga begitu.


Untuk membeli bonsai dengan media itu kita perlu hati-hati.

1. Pertama Penjual Nakal, setelah dikirim duitnya, dia dengan dalih apapun tidak mengirim barangnya.

2. Penjual bagus, tapi dalam pengiriman tidak bagus, bahkan bonsai bisa mati.

Pastikan bonsai yang dibeli, kita harus sharing sama-sama pembeli bonsai. Sehingga kita tahu siapa yang memiliki bahan bonsai tersebut atau bahkan bonsai itu sendiri. Yang paling penting agen mana yang mengirim bahan bonsai tersebut, karena expeditur tidak akan bertanggungjawab jika tanaman mati, yang penting sampai tujuan.


Rabu, 04 Desember 2013

Relevansi Teori Dimensi, Komposisi & Perspektif Dalam Seni Bonsai

Dalam seni bonsai, kita sering berbicara mengenai dimensi, komposisi dan perspektif; sebenarnya apa pengertian dan bagaimana penerapannya dalam seni bonsai secara konkrit ?

Ketiga unsure tersebut adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam estetika seni bonsai, saling berkaitan dalam praktek mulai dari training awal sampai pemilihan wadah tanam yang dipakai serta menataan kontur tanah dan pemakaian lumut.

Dimensi. 
Dimensi adalah ruang yang ditempati oleh fisik suatu benda. Kita mengenal benda bertiga-dimensi dan dua-dimensi. Suatu benda disebut 3-dimensi bila fisik benda tersebut menempati ruang dalam tiga orientasi berupa tinggi, panjang dan lebar (cont.: Bonsai); dan suatu benda disebut 2-dimensi bila fisik benda tersebut hanya menempati dua orientasi ruang, contohnya lukisan yang hanya menempati dua orientasi ruang.

Komposisi. 
Komposisi adalah tata letak dan susunan satu atau beberapa objek dalam suatu ruang tertentu; ruang tersebut bisa dalam bentuk 3-dimensi atau 2-dimensi.

Perspektif. 
Perspektif adalah persepsi pandangan kita terhadap suatu objek yang kita lihat dalam bentuk 2-dimensi. Secara sederhana bisa kita contohkan sebagai berikut :
Bila kita melihat dengan 2 belah mata sebuah pemandangan danau dengan gunungnya, efek yang kita lihat adalah 3-dimensi ; tetapi bila kita tutup sebelah mata kita dan hanya melihat dengan sebelah mata, maka efek pemandangan yang kita lihat adalah 2-dimensi dan kesan jarak antara danau dan gunung yang kita persepsikan adalah perspektif belaka karena kita kehilangan orientasi lebar. Demikian juga yang kita lihat dalam foto atau lukisan.
Jadi perspektif adalah persepsi ilusi orientasi kedalaman ruang dalam bidang pandang 2-dimensi, atau rekayasa ilusi untuk menciptakan persepsi ruang yang lebih dalam dari yang sebenarnya pada objek 3-dimensi.

Saat kita berbicara mengenai seni Bonsai, kita tahu bahwa percabangan adalah elemen untuk membentuk dimensi; perantingan dan perdaunan adalah elemen untuk membentuk komposisi; dan tata-letak serta konfigurasi penataan percabangan, perantingan, perdaunan serta tajuk secara keseluruhan dapat membentuk perspektif desain. Tata-letak serta konfigurasi elemen-elemen tersebut di atas dapat membentuk ilusi pada aspek volume pohon serta ilusi dimensi ke-tiga. Sekarang muncul pertanyaan : Bonsai adalah benda 3-dimensi, sedangkan perspektif adalah suatu konsep untuk bidang 2-dimensi, bagaimana mungkin ?

Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Bonsai adalah objek 3-dimensi yang kita nikmati atau kita pandang dalam kontekd 2-dimensi karena kita selalu tentukan satu sudut tertentu sebagai “depan”. Saat kita menentukan cabang untuk membentuk dimensi, tujuannya adalah untuk membentuk orientasi tinggi rendahnya cabang, panjang pendeknya serta orientasi lebar ke seluruh arah.
Tetapi dalam penataan 3-dimensi tersebut, kita harus mampu membentuk sehingga tata-letaknya dapat membentuk suatu “perspektif” yang merefleksikan keharmonisan saat kita melihat bonsai tersebut dari satu sudut pandang tertentu atau dengan sebelah mata (2-dimensi), atau hasil foto; karena objek bonsai tersebut berada dalam suatu bingkai sempit yang membatasi pandangan kita saat kita memandang dari depan (satu titik pandang). Oleh sebab itu, sering ada bonsai yang apik saat dilihat langsung, tetapi kurang indah saat difoto.

Saat kita membentuk ranting dan daun untuk garis canopy, yang kita perhatikan adalah bagaimana menyusun ranting, anak ranting serta daun supaya menciptakan suatu tata ruang yang harmonis dan berimbang saat kita memandang bonsai tersebut dari sudut pandang tertentu dalam suatu bingkai pandang.
Demikian juga saat kita meletakkan bonsai tersebut pada wadah tanamnya, sebenarnya yang kita ciptakan adalah keharmonisan dan keseimbangan penampilan, bukan saja dalam pandangan 3-dimensi, tetapi juga pada pandangan datar yang di dalam seni lukis disebut “Picture Plane”.

Bila kita membuat sebuah karya bonsai gaya grouping dengan susunan perbukitan, batu-batuan, sungai atau jalan setapak, di sini kita dituntut untuk menguasai hukum perspektif supaya tata ruang dalam wadah yang sempit tersebut tetap dapat mencerminkan panorama yang terkesan mempunyai kedalaman yang lebih jauh.


Image

"Susunan dan setting semua elemen pohon tersebut beserta wadah tanam menciptakan komposisi desain. Konfigurasi percabangan dan perantingan dengan pengarahannya menciptakan dimensi pohon; tetapi dengan tata-letak tertentu, termasuk over-lapping percabangan dan kontur tanah, kita dapat menciptakan efek perspektif yang indah dengan ilusi kedalaman yang nyata walau hanya dilihat dari foto. Warna dan kontur adalah bagian dari elemen yang dapat dipakai dalam teori perspektif."


Yang menarik adalah, kenyataannya teori perspektif sudah terlihat pada lukisan Cina dari abad-11 (dinasti Sung) walaupun belum sempurna secara matematik; sedangkan pada lukisan Jepang, teori tersebut baru muncul mulai abad-14. Teori ini mulai dikenal secara ilmiah pada jaman Renaissance dengan teori “Linear Perspective”, kemudian baru berkembang pesat di abad-15 pada jaman Romawi berjaya khususnya teori “Curvilinear Perspective” yang ditemukan oleh Leonardo da Vinci.

Hukum perspektif : “ Semakin menjauhnya suatu objek, maka akan semakin mengecil hingga pada titik di mana objek tersebut menghilang – disebut “Vanishing Point” (VP) di mana dari titik tersebut ditarik garis linearnya. Garis horizon (Horizon Line) juga sangat mempengaruhi perspektif, semakin rendah letak Horizon Line (HL), objek akan semakin terkesan tinggi dan monumental. Konsep tersebut berlaku untuk seni Bonsai pada tinggi rendahnya titik pandang kita, dan hal ini berpengaruh langsung pada pengaturan dimensi serta komposisi cabang dan ranting.

Kita sering memakai istilah “ nge-pen “ dalam menjelaskan bentuk batang yang mengecil dari bawah ke atas pada sebuah Bonsai, kemudian menurut text-book, ukuran cabang harus semakin mengecil ke bagian atas dan letaknya juga harus semakin mendekat. Apa maksud dari aturan tersebut ?
Salah satunya adalah alasan hukum perspective, dengan asumsi kita selalu melihat pohon dari bawah ke atas pada jarak yang relatif dekat, sehingga letak dan jarak setiap cabang mulai dari bawah ke atas akan kelihatan semakin mendekat dan ukuran batang akan kelihatan semakin mengecil ke atas. 

Temuan “Curvilinear Perspective” sangat berguna bagi seni Bonsai karena wadah tanam Bonsai sangat sempit dan bingkai pandang kita sangat terbatas terutama dalam tehnik gaya Grouping.
Dengan teori “Curvilinear Perspective”, penataan dapat dimanipulasi dengan distorsi sudut pandang sehingga efek pandangan terkesan luas dan kedalaman terkesan lebih jauh. Efek tersebut sama dengan bila kita memotret dengan memakai lensa “wide angle”.

Komposisi pada seni bonsai, sama juga dengan seni lukis yang percaya bahwa konsep asimetris tetapi berimbang adalah bentuk yang paling dinamis dan tidak membosankan, termasuk teori komposisi “Dramatic Diagonals”; demikian juga bingkai pandang yang dikenal dengan rumus “Golden Rectangle”. Dalam hal ini, “Visual Balance” yang dicari.
Sebenarnya saat kita training cabang dan ranting, terutama bonsai Cina gaya “Lingnan”, sering sekali diterapkan teori “Cuvilinear Composition” untuk mendramatisir suatu gaya secara alamiah.

Masih banyak sekali yang bisa kita pelajari dari teori dan konsep dimensi, komposisi dan perspektif, dan seyogianya dikuasai oleh para seniman bonsai karena sangat relevan dan berfaedah bagi pengembangan karya seni bonsai yang kita tekuni sehingga pijakan kita lebih solid.
Mari kita bersama-sama menggali lebih dalam, karena semakin banyak yang kita pelajari, sepertinya semakin banyak yang belum kita pehami !..terbukti seni bonsai adalah seni multi-disiplin.


Robert Steven
Initiator-Contributor-Admin Head


Selasa, 03 Desember 2013

GERAK TARI

Gerak tari merupakan unsur utama dari tari. Gerak di dalam tari bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dan estetis. Gerak tari selalu melibatkan unsur anggota badan manusia. Gerak dalam tari berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan maksud-maksud tertentu dari koreografer.
Gerak di dalam tari adalah gerak yang indah. Yang dimaksudkan dengan gerak yang indah adalah gerak yang telah diberi sentuhan seni. Gerak-gerak keseharian yang telah diberi sentuhan seni akan menghasilkan gerak yang indah. Misalnya gerak berjalan, lari, mencangkul, menimba air di sumur, memotong kayu dan sebagainya, jika diberi sentuhan emosional yang mengandung nilai seni, maka gerak-gerak keseharian tersebut akan tampak lain.
Gerakan tari yang indah membutuhkan proses pengolahan atau penggarapan terlebih dahulu, pengolahan unsur keindahannya bersifat stilatif dan distortif:
1.    Gerak Stilatif
Gerak yang telah mengalami proses pengolahan  (penghalusan) yang mengarah pada bentuk-bentuk yang indah.
2.    Gerak Distorsif
Pengolahan gerak melalui proses perombakan  dari aslinya dan merupakan salah satu proses stilasi.
Dari hasil pengolahan gerak yang telah mengalami stilasi dan distorsi lahirlah dua jenis gerak tari, yaitu gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi.
1.    Gerak murni
Gerak yang digarap untuk mendapatkan bentuk yang artistik dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan sesuatu. Dalam pengolahannya tidak mempertimbangkan suatu  pengertian tertentu, yang dipentingkan faktor keindahan gerak saja.
2.    Gerak maknawi
Gerak maknawi merupakan gerak yang telah diubah menjadi gerak indah yang bermakna dalam pengolahannya mengandung suatu pengertian atau maksud tertentu, disamping keindahannya. Gerak maknawi di sebut juga gerak Gesture, bersifat menirukan ( imitative dan mimitif ).
a.    Imitatif adalah gerak peniruan dari binatang dan alam.
b.    Mimitif adalah gerak peniruan dari gerak-gerik manusia.

Gerak adalah bahan baku utama tari. Untuk itu, sebelum membuat sebuah karya tari kita akan mempelajari seluk beluk gerak. Gerak ini nantinya akan  disusun menjadi tarian yang indah dipandang. Pertama – tama buatlah gerakan untuk tari tunggal. Jika dirasa sudah baik, kembangkan menjadi gerak tari berpasangan atau berkelompok. Dalam menyajikan sebuah tarian, perhatikan dan terapkan hal – hal berikut:
a.    Penguasaan materi gerak dan ekspresi yang akan ditarikan
b.    Ketepatan gerak dengan iringan
c.    Penguasaan ruang pentas
d.   Rasa percaya diri

A.  RAGAM GERAK TARI DAERAH
Masing masing daerah memiliki budaya dan selera yang berbeda – beda. Karenanya jika kita mengamati tariannya terdapat perbedan bentuk gerak dan teknik memperagakannya.
Ragam gerak tari kerakyatan banyak menggunakan imitatif dan ekspresif. Gerakannya menirukan kegiatan dan emosi manusia sampai menirukan perangai binatang.
Ragam gerak tari klasik banyak menggunakan gerak murni dan gerak ekspresif serta imitatif yang telah distilir atau diperhalus. Tema gerakannya juga menirukan kegiatan manusia dan perangai hewan tetapi gerakannya sudah terpilih dan mempunyai nilai simbolik dengan patokan atau pola- pola gerak yang sudah ditentukan.
Ragam gerak tari kreasi baru merupakan paduan beberapa ragam gerak tari tradisional, sehingga menjadi bentuk baru. Bentuk baru ini terasa lebih dinamis dan energik karena didukung oleh generasi muda dan ditata oleh koreografer yang kreatif. Tokoh tari kreasi baru di Indonesia sangatlah banyak. Beberapa diantaranya yaitu :
1.    Bagong Kusudiharjo dari Yogyakarta
2.    Guruh Soekarno Putra dari Jakarta
3.    Didik Nini towok dari Yogyakarta
4.    Munasiah Najamuddin dari Jenoponto, Ujung Pandang
5.    Sardono W. Kusumo
6.    Farida Faisal
7.    Denny Malik

Gerak tari tradisional:
1.    Gerak Jari
a.    Ngruji / ngrayung, semua jari rapat tegak lurus, ibu jari masuk ditekuk merapat telapak tangan. Tangan kiri dan kanan sama.
b.    Nyempurit, ujung ibu jari bertemu dengan  ujung telunjuk membentuk bulatan dan jari – jari lainnya melengkung mengikuti arah jari tengah. Tangan kanan dan kiri sama.
c.    Nagarangsang / boyomangap, seperti ngruji atau ngrayung hanya ibu jari membuka lurus kedepan. Tangan kanan dan kiri sama.
d.   Nyekithing, ruas ibu jari bersinggung dengan ruas jari tengah paling depan, jari–jari lainnya melengkung searah jari tengah.
2.    Gerak Kaki
a.    Nggrundho, sikap kaki nggrundho yaitu sikap dengan dua kaki mendhak sifat gantung.
b.    Lumaksono, berjalan ke depan. Sikap dan posisi kaki kiri lumaksono dengan arah telapak kaki serong ke luar atau meger timun.
c.    Gejuk atau Seblak, sikap kaki kiri gejuk atau dihentakkan ke lantai terap di belakang tumit kaki kanan.
d.   Tanjak kiri
e.    Trecetan , melangkah jinjit dengan cepat ke kanan atau ke kiri.
f.     Kicat

B.  ASAL GERAK
Gerak dapat diperoleh melalui eksplorasi atau penjelajahan. Eksplorasi merupakan proses berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon suatu objek yang diperoleh melalui panca indera. Objek ini bentuknya bisa berupa benda, alam, suara dan rasa. Mengamati karya sastra seperti prosa dan puisi, mendengarkan irama musik, mengamati aneka kegiatan manusia, perangai binatang, sampai benda dan kejadian alam sekitar semua dapat menimbulkan imajinasi yang merangsang terjadinya respon gerak spontan. Sedangkan penjelajahan rasa, seperti panas, dingin, marah, senang dan sedih akan membantu pencarian gerak ekspresif. Gerak-gerak ini dapat kita himpun menjadi gerakan tari yang indah. Untuk mempermudah mencari dan merespon gerak maka kita harus mengetahui tema dari tari tersebut. Tema merupakan gambaran awal gerak-gerak yang diperagakan, contohnya:
a.    Kepahlawanan, gerak yang muncul adalah gerak pencak silat, perang, gerak beladiri atau olah kanuragan.
b.    Kesedihan, gerak yang muncul adalah gerak permohonan.
c.    Kegembiraan, gerak yang muncul adalah gerak suka cita, meloncat-loncat, melambai-lambai, melenggang, bergoyang.
d.   Binatang, gerak yang muncul adalah menirukan tingkah laku binatang tersebut.

C.  MENYUSUN GERAK
Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah terkumpul, barulah dirangkai menjadi tarian. Menyusun gerak yang baik adalah memadukan gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap.
Gerak maknawi adalah gerak-gerak yang memiliki maksud atau arti dan melambangkan suatu hal. Misalnya, gerak yang melambangkan burung terbang atau kain melambai.
Gerak murni adalah gerak yang mengutamakan keindahan. Gerak ini tidak menyimbolkan sesuatu, tetapi diuat agar tarian tampak estetis, misalnya gerak memutar pergelangan tangan atau menggoyangkan pinggul.
 Arah memberikan orientasi pada tarian. Ada dua macam arah dalam menari, yaitu:
1.    Arah Hadap, menunjukkan kemana penari menghadap, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, menengadah atau menunduk.
2.    Arah Gerak, menunjukkan kemana penari akan bergerak, membuat lingkaran, zig-zag, berjalan maju dan mundur, serong diagonal, spiral dsb.

Dalam menata tari  perlu diperhatikan level dan kepadatan.
1.    Level
Tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak.
Ada tiga level dalam menari, yaitu:
a.    Level Tinggi              : Meloncat
b.    Level Sedang            : Membungkuk
c.    Level Rendah           : Duduk
2.    Kepadatan (density)
Penguasaan ruang oleh penari, ini penting untuk tari kelompok. Penempatan atau formasi penari di atas pentas harus sedemikian rupa sehingga indah dan tidak tampak penuh.
Penata tari yang baik juga memperhatikan desain tari. Desain adalah garis yang terlihat oleh penonton yang ditimbulkan oleh gerak penari. Garis yang dilalui di lantai oleh para penari disebut desain bawah. Misalnya, garis diagonal, horizontal, zig-zag, spiral dll. Garis yang dilihat oleh penonton sebagai gerakan penari di atas pentas adalah desain atas. Contohnya, loncatan, gerak payung, pita dll.
Merangkai gerak agar indah dan menarik perlu ada harmoni. Harmoni dapat dicapai bila koreografer memperhatikan atau memadukan gerak dengan hal-hal berikut ini:
1.    Irama sebagai pengiring dan pemertegas gerak.
2.    Penguasaan ruangan dengan desain atas, bawah dan medium.
3.    Penataan komposisi penari untuk mengatasi kejenuhan sesuai dengan jumlah penari.
4.    Penggunaan rias dan busana yang selaras dan mencerminkan tema.





Sumber : materisenibudayabloq.bloqspot.com



Senin, 02 Desember 2013

BONSAI MASUK KAMPUS UNESA

Lembaga Kajian Bonsai Indonesia (LKBI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan pameran apresiasi bonsai yang diberi nama “Bonsai Masuk Kampus”. Pameran diselenggarakan di halaman foodcourt kampus Unesa Ketintang, mulai Rabu-Minggu (4-8 Desember 2013). Selain pameran juga diselenggarakan Sarasehan Bonsai, demo bonsai dan klinik bonsai.

Direktur LKBI Drs. Wahjudi D. Sutomo menjelaskan, bahwa acara ini merupakan upaya LKBI untuk mengenalkan seni bonsai di kalangan civitas akademika, khususnya Unesa. Karena itu LKBI menyambut baik ajakan kerjasama pihak Unesa yang menyelenggarakan acara ini untuk memeriahkan Dies Natalis Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ke 49.

Sepanjang pameran berlangsung, juga diadakan Demo Bonsai, setiap pukul 15.00 – 17.00 WIB oleh M. Syaiful Arief, seorang trainer bonsai yang sudah berpengalaman. Sedangkan khusus hari Jum’at (6/12), mulai pukul 14.00, diselenggarakan Sarasehan Bonsai dengan pembicara: Drs. Wahjudi D. Sutomo, Husny Bahasuan (kolektor bonsai) dan DR. Djuli Djatiprambudi, ketua jurusan seni rupa FBS Unesa, yang akan membahas seni bonsai dari sisi akademis. Sedangkan Henri Nurcahyo, jurnalis seni bonsai, bertindak selaku moderator.

Pameran ini juga diselenggarakan berdasarkan pemahaman bahwa bonsai pada dasarnya adalah pohon mini, kerdil, berukuran kecil yang pertumbuhannya diatur, berpenampilan menarik, berbentuk indah, tua atau berkesan tua, yang ditanam dalam suatu wadah atau pot. Bonsai bukan sekadar tanaman hias dalam pot, melainkan sudah menjadi cabang kesenian tersendiri, yaitu Seni Bonsai. Karena itu bonsai dapat diapresiasi dari aspek biologi flora namun sekaligus ditelaah dari disiplin seni rupa atau seni visual. Pemahaman bonsai sebagai seni visual bukan menurut parameter Barat yang arogan, sebab memahaminya harus dengan paradigma dan filosofi ketimuran, sebab bonsai adalah sebuah tradisi Zen dari Timur (khususnya Tiongkok dan Jepang) yang telah tumbuh sejak 4000 tahun lalu. 

Selain bonsai dapat dikaji dari aspek teknis dan aspek seni, bonsai juga membutuhkan kajian yang bersifat keilmuan. Bahwa yang disebut “indah” dalam seni bonsai itu tetap dapat dijelaskan secara akademis. Indah memang relatif, tetapi tetap dapat dipelajari.

Sementara itu, bonsai seharusnya juga bisa masuk dalam sub-sektor Industri Kreatif, menambah 14 elemen industri kreatif yang sudah ditetapkan menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Karena Industri Kreatif itu adalah muara dari Ekonomi kreatif, yaitu “industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.” Deskripsi industri kreatif tersebut sangat pas diterapkan pada bonsai.

Dengan adanya pameran ini diharapkan dapat memberikan kesempatan pada masyarakat umum, khususnya Civitas Academica untuk dapat menikmati karya-karya seni bonsai yang terpilih dalam suatu kesempatan khusus yang dilangsungkan di lokasi yang representatif. Menciptakan ruang dialog antara seniman dan pelaku bonsai dengan kalangan Civitas Academica untuk secara bersama-sama mengapresiasi seni bonsai sebagai karya seni visual sekaligus objek keilmuan. Menyebar-luaskan kecintaan terhadap seni bonsai sebagai perwujudan dari keagungan Yang Maha Kuasa. Dan juga Menanamkan rasa cinta lingkungan hidup melalui seni bonsai dalam satu kesatuan dengan cinta kesenian. (*)



Sumber : Jelajah Bonsai


Minggu, 01 Desember 2013

Program Kontes Yang Dapat Meningkatkan Mutu Bonsai Nasional

Bonsai adalah karya seni, lalu mengapa karya seni dapat dikonteskan ? Pertanyaan ini sering kita dengar; lalu apa jawabannya ? Apakah kontes bonsai diadakan sebagai ajang pamer keterampilan, ajang mencari kebanggaan dan kepuasan pribadi (mampu membeli bonsai mahal), sekedar ajang berdagang ataukah sebagai suatu kegiatan berkesenian untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, mencari barometer pembanding demi untuk lebih meningkatkan mutu bonsai nasional ? 

Apapun jawabannya, yang pasti ada manfaat positif nya terutama dalam peningkatan mutu perbonsaian nasional dengan segala kepentingan masing-masing, kepentingan yang saling menunjang dan saling membutuhkan; dan selanjutnya dengan mutu yang semakin baik akan membawa manfaat bagi semua lapisan pecinta seni bonsai nasional. 
Tetapi kontes yang bagaimana yang dapat meningkatkan mutu perbonsaian nasional sekaligus menciptakan sinergi terpadu secara nasional ? Jawabannya adalah kontes yang terprogram secara nasional yang dapat menghasilkan tolok ukur mutu bonsai secara nasional, dan yang dapat dilihat secara kasat mata perkembangan dari tahun ke tahun.

Apakah sistem penjurian dapat meningkatkan mutu bonsai nasional ? Menurut saya sama sekali tidak !
Sistem penjurian hanyalah alat dan metode pada suatu kontes tertentu, kwalitas juri malah jauh lebih penting dari pada apapun sistem yang dipakai.

Kontes yang kita lakukan sekarang jelas tidak terprogram, mungkin ada misi, tetapi tanpa visi. Semua kontes yang dilakukan oleh masing-masing daerah adalah terpenggal-penggal tanpa tujuan. Selalu ada istilah kontes nasional, tetapi apakah kontes tersebut benar mencerminkan skop nasional ? Jangankan nasional, provinsi saja belum tentu; lalu tolok ukur nasional yang bagaimana yang terbentuk ? Juara nasional yang di mana yang mencerminkan mutu bonsai nasional kita ?

Lalu seharusnya bagaimana ?
Seharusnya setiap kontes yang diadakan oleh masing-masing daerah adalah merupakan seleksi yang kemudian akan mengkrucut ke kontes nasional; dan kontes nasional seharusnya diadakan oleh pusat hanya satu tahun sekali. 

Bonsai mana yang boleh ikut dalam kontes nasional ? Ini sekedar masalah teknis seleksi yang sederhana, bisa dengan cara pembagian quota sesuai dengan kondisi setiap daerah. Dengan demikian, setiap anggota di daerah akan berlomba-lomba meningkatkan mutu bonsai mereka pada kontes daerah, supaya bisa terseleksi untuk ikut ke kontes nasional. Dengan demikian, jangankan menang, bisa masuk seleksi saja sudah merupakan kebanggaan; dan dengan demikian, tolok ukur mutu bonsai nasional dapat dengan jelas terlihat dan terukur perkembangannya..dan yang paling penting lagi, jelas mencerminkan mutu bonsai nasional.
Sistem ini sudah dilakukan di banyak negara, bahkan bukan lagi nasional, tetapi regional seperti Eropah.
Sistem ini sudah sering saya utarakan sejak saya masih dalam kepengurusan pusat, tetapi tidak pernah ditanggapi.

Bagaimana dengan kontes kelas madia dan utama ? Menurut saya, ini boleh saja karena merupakan tahapan seleksi untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi, sekaligus untuk merangsang mereka yang bonsainya belum terlalu bagus, tetapi tetap dapat mengikuti kontes dan memenangkan penghargaan untuk selanjutnya meningkatkan mutunya secara berjenjang.

Bagaimana dengan kontes bahan prospek dengan alasan untuk memberi kesempatan dan semangat kepada pemula ? Menurut saya, ini adalah cara akal-akalan yang tidak mendidik, malah sebaliknya menciptakan kondisi pembodohan kepada pemula. Ini adalah ide yang menggampangkan untuk sekedar menyenangkan orang tanpa memikirkan efek jangka panjang terhadap perkembangan perbonsaian nasional, bahkan merupakan pelecehan terhadap seni bonsai.

Ada juga yang beralasan supaya panitia bisa mencari dana tambahan dari uang pendaftaran karena biaya yang dikeluarkan cukup banyak dan sering rugi. Saya sama sekali tidak dapat menerima alasan ini karena banyak cara untuk mencari dana termasuk sponsor; dan kalau tidak mampu dan tidak ada penyandang dana untuk menalangi kerugian, ya jangan adakan acara, atau cari cara lain sesuai dana yang ada tanpa harus mengorbankan perbonsaian nasional. Di mana mana di seluruh dunia, kalau sudah bersedia menjadi ketua cabang ya sudah harus siap bekerja keras, mengabdi, berkorban dalam dana dan raga; di sinilah letak bukti kemampuan memimpin.

Ada yang mengatakan kenapa tidak, syah-syah saja selama tidak ada yang dirugikan, malah menguntungkan pedagang dan pemula. Menurut saya, ini adalah pemikiran yang “ignorant”, dangkal melalui jalan pintas tanpa berusaha berpikir. Kalau alasannya adalah untuk memberi semangat kepada pemula, merangsang pemain baru, memberi peluang kepada pedagang…banyak cara yang bisa dilakukan dengan lebih baik, lebih mendidik dan lebih efektif.

Salah satu contoh konkrit yang sudah dilakukan di Indonesia, yaitu di pameran/ kontes di Sumenep pada bulan Mei 2011. Saat itu saya diminta untuk menjadi penasehat panitia. Saat saya tahu bahwa rencananya akan ada kontes bahan prospek, saya menentang keras dan mengusulkan cara lain untuk merangsang semangat pemula, yaitu kontes sketsa desain bonsai. Kami pamerkan beberapa bahan yang berbeda, lalu peserta diminta untuk membuat sketsa desain yang menurut mereka cocok dan bisa dibuat dari bahan tersebut. Yang kami nilai bukan keterampilan sketsa, tetapi ide, kreativitas dan kemungkinan logika dari desain tersebut.

Ternyata animo persertanya sangat luar biasa, hampir semuanya pemula, dan hasil sketsa juga menampilkan ide-ide cemerlang dan kreatif. Cara ini terbukti efektif untuk merangsang minat dan kreativitas, dan rasa kebanggaan jauh lebih positif dari pada menang kontes bahan yang tidak mendidik dan tidak mencerdaskan.

Ide ini sebenarnya dapat dikembangkan lebih lanjut; misalnya setiap peserta bisa ikut dalam kontes dengan bahan yang mereka miliki, tetapi harus disertai dengan sketsa desain yang sederhana. Lalu juri menilai faktor kreativitas dan kemungkinan logis desain tersebut, bukan bahannya yang dinilai ! Cara ini jauh lebih mendidik, menyenangkan sekaligus menguntungkan semua pihak. Peserta dapat belajar berimajinasi dan berkreasi, bahan dapat dijual karena calon pembeli bisa melihat prospek desain dari bahan tersebut, apalagi kalau menang penghargaan, dan panitia juga tetap bisa mendapatkan uang pendaftaran.

Dalam setiap pameran, kalau organisasi mempunyai visi jauh, juga dapat dilakukan lomba untuk merangsang minat bonsai kepada generasi muda dan generasi penerus, khususnya anak-anak. Banyak cara, antara lain dengan lomba melukis bonsai yang dipamerkan, atau lomba mewarnai gambar bonsai dan lain-lain. Bisa dengan bekerja-sama dengan sekolah TK atau SD, lalu cari sponsor untuk berjualan dagangan jajanan (atau panitia yang adakan sendiri) karena ramai anak-anak...dan hasilnya adalah dana tambahan.

Masalah kita adalah apakah “mereka-mereka” itu mempunyai misi dan visi, mau berpikir dan mempunyai niat kepedulian melakukannya ? Walahualam…..

_________________
Robert Steven
Initiator-Contributor-Admin Head


Sumber : Forum Hobby Indonesia

Sabtu, 30 November 2013

TEKNIK

Bonsai Art Seri 17

Penguasaan tehnik bonsai sangat penting pada waktu pembuatan sebuah karya seni.  Dengan mengenal dan mengusai teknik seni, maka akan bebas membentuk semua gagasan aspek seninya. Teknik seni merupakan dasar ciri khas, karena bentuk seni yang dihasilkannya menggambarkan  pula isi dari semua gagasan seninya.

Gagasan yang hebat tanpa disertai penguasaan teknik seni yang baik, akan melahirkan sebuah karya seni yang tidak maksimal. Teknologi terus berkembang, dengan demikian teknik seni juga turut berkembangpemikiran filosofi mengenai isi gagasan seni yang orisinil dan otentik maka gagasan itu akan menuntun ke teknik yang harus digunakan, karena isi gagasanlah yang menuntun seseorang untuk melahirkan teknik dan bentuk baru yang dapat merangsang perasaan tertentu agar dapat diterima, diterjemahkan dan dinilai oleh orang lain. Pada waktu membuat karya seni diperlukan kepribadian, bakat, ketrampilan, keunikan dan keasliannya dan hal inilah yang akan melahirkan ciri khas.

Teknik seni berkaitan erat dengan masalah mengatur garis pada anatomi pohon dan demikian pula halnya dengan peletakan pohon dipot tertentu beserta asesori pendukungnya. Semua unsur teknis yang terkandung didalamnya saling berhubungan dan berkaitan antara satu dengan lainnya, yang disesuaikan menurut selera dan kepentingan fungsinya.




Treen & Grow Bonsai Training Centre