Sabtu, 22 Juni 2013

WISATA KULINER JOMBANG

NASI   RAWON


Kalau kita perjalanan dari kota Jombang menuju ke Kediri Lewat Kertosono maka akan ditemui sebuah warung yang sederhana. Warung itu bernama "Warung Lumayan". Masakan yang disajikan banyak sekali. Tergantung selera makanan masakan Jawa Timur.

Tampak Depan Warung Lumayan

Waktu penulis kesana, menu yang special adalah nasi rawon pesan dengan wedang jahe, karena habis perjalanan malam akan menambah kehangatan perjalanan.

Tepatnya di Jalan Raya Jati Pelem Diwek Jombang. Dari Kota Jombang ke Kota Kertosono berada disebelah kiri jalan, sebelum masuk tingkungan yang ke arah Gudo jika melewati rel kereta. Jika dari perempatan Mengkreng yang biasa jalur macet pertemuan arus dari Kota Madiun dan Kota Kediri, berada disebelah kanan jalan, tapi depan warung itu juga membuka cabang, pas didepannya. Warung berada tingkungan setelah SPBU.


Menu Makanan
Nasi Rawon dihidangkan. Enak sekali. Sampai habis makan. Minum Wedang Jahe. Pelayannya cukup ramah dan masih muda. Penulis bertanya kepada pelayannya "Mas warung ini berdiri tahun berapa ? Dia jawab "Sudah lama pak ! Saya sudah 4 tahun ikut disini" Inilah yang menunjukkan bahwa warung tersebut sudah lama. Biasanya warung itu cukup ramai sekali.


Memasuki warung yang sangat sederhana, warung Lumayan berdiri sudah lama sekali. Penulis pernah kesitu pertama kali sekitar tahun 1996 sebelum krisis yang melanda Indonesia.

Bagi rekan-rekan yang suka wisata kuliner, monggo dicoba !

Jumat, 21 Juni 2013

BONSAI ART ( 8 )

RASIONAL

Dapat dicerna oleh rasa dan logika

Moralitas adalah sebagai landasan kejujuran dan ketulusan untuk pengungkapan nilai-nilai seni yang dikembangkan dari konsep yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada hakekatnya seni adalah penelanjangan diri, karena dalam menciptakan sebuah karya seni yang sangat penting adalah kejujuran pada kenyataan untuk menghargai kebenaran dan keindahan secara otentik, sehingga dapat menampilkan karakteristik seni tersendiri atau ciri khas yang lain dari yang lain, jelas dan penuh arti yang dapat dicerna oleh rasa dan logika.


Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre

Kamis, 20 Juni 2013

PENGHOBI BONSAI TUBAN ( 4 )

MAS ARIF

Dengan cukup sederhana seorang menyaut salam yang terlontar. Dia menyambut dengan baik. Dia masih mengutak-atik tanaman ulmus yang berada diatas batu. Baju yang sekedar menempel, kelihatan seorang seniman. Badan cukup kurus. Dia adalah Mas Arif biasa dipanggil begitu. Sekarang tinggal dengan seorang pembonsai juga yang lain kali bisa penulis tampilkan. Rumah cukup sederhana. Hanya bisa untuk tidur. Orang Tuban akan mengenal daerah itu. Daerah itu biasa disebut "nDasin". Tempatnya deket sekali dengan SPBU Bensin. Jurusan Tuban - Semarang. 

Mas Arif sedang merawat Ulmus

Tinggal di Tuban mulai tahun 2005, sejak adanya pameran pertama di kota Tuban. Kehidupannya sudah menyatu sekali dengan tanaman bonsai. Kadang tanaman bonsai dimandikan dulu sebelum dia mandi.

Salah Satu Karya Mas Arif Bonsai Serut on The Rock

Kesukaan akan tanaman bonsai sejak tahun 1999. Dulu Mas Arif ikut seorang pebonsai yang bernama Pak Aji, dia sebut begitu. Pak Ajilah yang mengilhami karya-karyanya. Mas Arif ikut pak Aji selama 1 tahun. Dalam ikut (ngenger) itulah Mas Arif mulai belajar tanaman bonsai. Bahkan pekerjaan awal sebagai seorang karyawan di salah satu penjualan pakaian terbesar di Indonesia ditinggalkan demi kesenangan terhadap tanaman bonsai. 

Setelah menempa belajar tanaman bonsai selama satu tahun, maka dia mulai mengembangkan tanaman bonsai di kota Tuban sampai sekarang. Jika berbincang-bincang dengan dia, cukup banyak ilmu yang didapat tentang tanaman bonsai. Dia tidak mau ditampilkan dimana-mana. "Sungkan pak" kata Mas Arif.

Kebun yang harus dirawat Mas Arif

Karya Mas Arif memang agak ektrim. Dia pingin menampilkan tanaman bonsai dengan sebuah kesempurnaan, yang hal ini sulit didapat dan dipenuhi.

Selamat Mas Arif, kami menunggu karya-karyamu.

Senin, 17 Juni 2013

KESENIAN TRADISIONAL TUBAN ( 2 )

KESENIAN SANDUR ( 2 )

Cerita yang ditampilkan tentang perjalanan seorang anak yang bernama Pethak mencari pekerjaan kepada seorang juragan Germo. Jalannya cerita menggambarkan bagaimana proses menggarap ladang mulai dari buka ladang (babad alas), membajak (ngrakal), menanam (icir), menyemai (besik), memberi rujak (ngrujaki) hingga menuai (undoh-undoh). Di tengah jalannya cerita terdapat seling cerita fragmen adegan yang bersifat humor dan edukatif, seperti Jaranan, Cina dingklang, Kaki-nini, Polisi Hutan. Adegan selingan yang bersifat simbolik adalah sindhiran yaitu bancik endog, bancik kendi, bancik dengkul, bancik pundak dan kalongking sebagai adegan penutup.


Musik Sandur oleh masyarakat setempat disebut panjak hore, terdiri dari 25 hingga 30 orang semua laki-laki. Kalau dulu sekiatr tahun 70-an jumlah panjak hore bisa mencapai 50 orang. Mereka melantun lagu-lagu vokal dari awal hingga akhir pementasan. Peralatannya atau instrumen yang digunakan hanya sebuah kendang dan satu bumbung yang berfungsi sebagai kempol dan gong. Karena suara yang dominan adalah vokal ada yang menyebutnya musik mulut dan karena suaranya terdengar lebih keras.
Musik mulut dari 30 orang yang menggema sepanjang malam dengan karakteristik yang khas. Dari segi musikal pertunjukan sandur mempunyai kesan yang unik dan menarik. Syairnya merupakan deskripsi (nyandra) masing-masing adegan serta apa yang dilakukan oleh penari.

Penonton merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan. Keterlibatan penonton dalam pertunjukan mulai dari menyediakan makan dan minum bagi para pemain juga komunikasi pada dengan pemain saat pertunjukan serta ikut menyanyi bersama panjak hore. Selain itu tentang keterlibatan penonton dalam pertunjukan juga disebut di dalam resitasi tandhuk

Jalannya Pertunjukan
Pertunjukan Sandur yang dilakukan semalam suntuk dari pukul 20.00 hingga pukul 04.00 tetap menarik penonton dari awal hingga akhir. Kebanyakan penonton pada berdatangan menjelang pagi hari, karena ingin menonton adegan kalongan yang bersifat akrobatik magis. Sekitar pukul 20.00 panjak hore sekitar 20 orang masuk kalangan, mereka duduk melingkar menghadap rontek di pusat arena membelakangi penonton. Pra pertunjukan diawali dengan penyajian lagu-lagu panjak hore yang melantunkan lagu-lagu gambuh kalangan dilanjutkan gambuh pedanyangan.. Lagu gambuh kalangan syairnya berisi deskripsi (nyandra) tentang pembuatan kalangan atau arena dari awal hingga selesai. Lagu gambuh pedanyangan syairnya berisi permohonan ijin ke pada pedanyangan tempat pertunjukan dilaksanakan. Biasanya pada saat ini penonton sudah mulai berdatangan duduk di sekiling kalangan.

Pada akhir dilantunkannya lagu gambuh pedanyangan, muncul prosesi yang terdiri dari yang terdepan tukang obor, diikuti berturut-turut tukang upet (pembawa perapian untuk dupa), tukang kandhut (pembawa pakaian penari), empat penari Sandur, dan paling belakang tukang obor. Prosesi masuk kalangan berjalan sambil menari mengelilingi panjak hore dan rontek tiga kali terus keluar lagi untuk paes (rias busana). Adegan ini disebut Bendrong lugasan karena para penari masih belum berhias busana penari. Pada saat menunggu penari sedang berhias busana ditempat yang lain, panjak hore melantunkan lagu gambuh paras yang syairnya nyandra bagaimana penari sedang rias busana.

Setelah penari selasai memakai busana seperti pada prosesi pertama, meskipun penari sudah memakai  busana namun masih menggunakan kerudung sehingga wajahnya tidak tampak. Prosesi masuk kalangan dan berjalan sambil menari keliling tiga kali terus penari duduk bersila disebelah sesaji yang telah disiapkan, yang lain bergabung dengan panjak hore. Adegan ini disebut Bendrongan dan terus diiringi oleh lagu-lagu panjak hore. Setelah penari duduk panjak hore menghentikan lagu-lagunya, dilaksanakan selamatan dibacakannya do’a dan tandhuk oleh juru kunci Sandur. Pada saat dibacakan tandhuk dan do’a secara agama Islam semua termasuk penonton menyahut dengan kata-kata “enggih” dan “amin”.

Bacaan doa berisi permohonan keselamatan dan resitasi bacaan tandhuk yang cukup panjang menceritakan jalannya asap (kukus) menyan madhu membubung tinggi hingga langit sap ke tujuh tempat bersemayam para bidadari. Setelah mencium harumnya menyan madhu 44 bidadari turun ke tempat pertunjukan, 4 bidadari masuk kepada penari dan 40 lainnya masuk ke panjak hore. Pada saat-saat tertentu diselingi lagu-lagu panjak hore yang syairnya juga menceritakan perjalanan turunnya bidadari tersebut.

Pertunjukan utama dimulai setelah selamatan dan pembacaan tandhuk selesai. Adegan pertama yaitu adegan simbolik bancik endog yang disebut sindhiran. Selanjutnya berturut-turut adegan babad alas (buka ladang), ngrakal (membajak), /c/r (bertanam), besik (menyemai), sambang tegai (menjenguk ladang) atau ngrujaki (memberi rujak), dan undoh-undoh (menuai). Di sela-sela tiap adegan diselingi adegan sindhiran bancik kendi, bancik dengkul dan bancik pundak. Adegan terakhir sebagai penutup yaitu bandhan diterus bandhulan atau kalongan yang bersifat magis akrobatik.


Menjelang adegan terakhir salah seorang penari laki-laki jatuh pingsan. Pada saat itu pula para penonton seolah tersentak langsung berdiri dan mendekat kalangan. Penari yang pingsan busana tarinya ditanggalkan dan diikat dengan tali, dimasukkan ke dalam kotak. Setelah beberapa saat dibuka, sudah terlepas dari ikatan, adegan ini disebut bandhan. Masih dalam keadaan tak sadar penari dibawa ke tempat tali yang menjulur di tengah arena. Penari naik ke atas dengan memanjat tali. Sampai di atas menari-nari sambil tiduran diatas tali, kadang menggelantong dengan kepala menjulur ke bawah. Panjak hore dan para penonton dengan serentak dan semangat melantunkan lagu kalongking seolah memberi semangat. Teriakan penonton terutama anak-anak dari berbagai arah “…mudun cung – mudun cung…” (ayo turun) berulang-ulang, yang lain tetap melantunkan lagu kalongking. Penari kalongking mengambil ketupat dan lepet yang banyak bergelantong di tali atas dan dilemparkan ke pada penonton. Penonton berebut kupat dan lepet, bagi mereka yang mendapatkan dipercaya mendapat keberuntungan. Setelah beberapa saat penari turun dan disambut oleh juru kunci dibawa berputar-putar kalangan hingga sadarkan diri. Penari sadar memakai pakaian sehari-hari, panjak hore melantunkan lagu gambuh uleh-uleh sebagai pertanda dan pengantar para bidadari pulang ke asalnya dan pertunjukan selesai.

selanjutnya pada Kesenian Tuban  ( 3 ) ....

Minggu, 16 Juni 2013

PEGELARAN SENI TUBAN



OPEN STUDIO






PROSES PEMBUATAN KERTAS
Menikmati karya seni tidaklah cukup dengan hanya melihat hasil visualnya saja, karena kita tidak akan pernah mendapatkan gambaran secara utuh tentang karya tersebut.

  Dengan sering berkunjung ke studio seniman, sangat memungkinkan kita bisa berdialok langsung tentang proses yang melatar belakangi karya karyanya, selain itu kita juga bisa melihat berbagai tehnik bagaimana seorang seniman mengeksekusi karyanya, pada tahap ini merupakan pengalaman yang tak terhingga nilainya bagi jiwa kita dan pengalaman ini tentu akan berbeda pada setiap orang juga pada setiap studio seniman yang kita kunjungi.
PROSES PEMBUATAN SENI
Gedung Budayaloka mempunyai sejarah yang panjang bagi kehidupan masyarakat, dari niatana awal didirikannya sampai usaha-usaha pendiriannya menyimpan memori tentang keuletan dan kegotongroyongan masyarakat kita dalam mewujudkan keinginan bersama.

Di tempat inilah kami berhimpun mengusung tiap-tiap atmosfir berkesenian yang kami punyai untuk kita bagikan pada masyarakat dalam OPEN STUDIO yang berlangsung mulai tanggal 14 Juni sampai dengan 18 Juni 2013 dengan melibatkan 20 seniman dan lebih dari 50 karya seni rupa.

HASIL KARYA SENI RUPA
Selama open studio berlangsung diadakan Art & Adventure bagi anak anak untuk mengenalkan proses kreatif sejak dini.
HASUL KARYA SENI RUPA YANG CUKUP BESAR
OPEN STUDIO merupakan pilihan yang tepat sebagai sarana rekreatif yang menyenangkan dalam membantu kreatifitas anak dan diri anda lebih terbuka. 

SENI RUPA YANG MENGKRITIK SOSIAL

KREATIFITAS DI ATAS LANTAI


Selamat Bergabung.

Sabtu, 15 Juni 2013

BONSAI ART ( 7 )

REALITAS

Kenyataan yang alami

Bonsai sebagai karya seni yang hidup mempunyai usia kehidupan yang lebih panjang dibanding dengan usia manusia. Dengan seni ini banyak diperoleh nilai tambah yang sangat berguna bagi lingkungan hidup dengan melatih diri untuk rasa mencintai dunia botani. Dengan demikian seni bonsai ini turut serta mendukung perbaikan lingkungan hidup dan menjaga kelestarian plasma nutfah yang ada dengan cara memanfaatkan sumberdaya alam secara berkesinambungan, tanpa merusak lingkungan hidupnya melalui proses budidaya. Fenomena alam lingkungan dan budaya setempat adalah sebuah gambaran yang dijadikan sebagai kerangka pemikiran kearah gagasan untuk penyusunan konsep pembuatan sebuah karya seni bonsai, yang ditampilkan sealamiah mungkin sehingga terkesan alami, seolah-olah tidak ada campur tangan manusia, walaupun sebenarnya karya seni bonsai adalah hasil dari rekayasa.
Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre

Jumat, 14 Juni 2013

PENGHOBI BONSAI TUBAN ( 3 )

Pak Sinyo

Sosok Pak Sinyo
Sosoknya cukup sederhana. Pembicaraan yang apa adanya. Dengan penampilan yang penuh dengan jamban dan janggut yang tumbuh dan kaca mata yang selalu menempel. Ditangan tak lupa pegang rokok, menambah kenikmatan sebuah kehidupan. Dia adalah Bapak Kardiyono atau orang lebih mengenal dengan sebutan "Pak Sinyo". 



Awal kegemarannya adalah berburu dan mancing. Bahkan habis kerja langsung merencanakan untuk kedua hobinya. Bapak yang sudah berputra 2 orang yang sekarang putranya sudah tidak satu rumah alias sudah berkerja ditempat lain, maka Pak Sinyo mulai berpikir bahwa hobi yang ditekuni selalu meninggalkan rumah. Pak Sinyo berpikir bahwa istrinya selalu ditinggal, bahkan pak Sinyo  berpendapat rumah cuma sebagai ampiran saja. Hobi yang  selalu meninggalkan istri, pak Sinyo mulai kasihan juga, akhirnya dia mengalihkan hobinya ke tanaman bonsai sejak tahun 2006 dan sejak kota Tuban mengadakan pameran pertama. Sejak saat itu mulailah melirik hobi tanaman bonsai sampai sekarang. 

Pak Sinyo sedang berbincang dengan Mas Warsis
Meskipun kegemaran bonsai masih dibilang muda dan karena usia pak Sinyo sudah 57 tahun maka pemikiran tentang tanaman bonsai sudah cukup matang. Sehingga banyak yang suka akan koleksinya. 

Pak Sinyo sudah mempunyai koleksi bonsai sekitar 20 tanaman bonsai yang sudah dikemas dalam pot. Koleksi yang masih diliarkan atau ditanam ditanah tidak bisa dihitung jumlahnya. Tanaman yang menjadi koleksi adalah Kawista. Pak Sinyo mulai membudidayakan tanaman kawista  mulai dari biji. Tanaman Kawista sudah mulai punah di hutan Tuban karena diambil orang orang terdahulu yang mempunyai hobi tanaman bonsai. Sehingga inisiatif budidaya ini yang harus digerakkan.

Beliau masih bekerja di instansi pemerintah Kabupaten Tuban. Sambil menunggu usia pensiun yang sudah dekat, tanaman bonsai ini yang digunakan sebagai kegiatan kesehariannya. Rumah terletak di desa Semanding Barat RT 2 dan RW 1, Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban.

Hobi tanaman bonsai ini yang bisa menyambung persaudaraan kehidupan. 

Selamat Bapak Sinyo, kami tunggu karya berikutnya.


Rabu, 12 Juni 2013

KESENIAN TRADISIONAL TUBAN ( 1 )

KESENIAN SANDUR  ( 1 )

Sandur merupakan sebuah pertunjukan yang khas di daerah Kabupaten Tuban dan diakui sebagai icon daerah Tuban karena sifatnya yang unik dan khas. Pertunjukan Sandur merupakan pertunjukan rakyat yang digelar di tanah lapang. Penonton duduk di sekeliling pementasan. Tempat pertunjukan diberi pembatas untuk penonton dengan memasang tali berbentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi sekitar 4 meter, tinggi sekitar 1,5 meter . Masing-masing sisi diberi janur kuning sehingga batas. Di tengah-tengah sisi sebelah timur dan barat dipancangkan sebatang bambu menjulang ke atas dengan ketinggian sekitar 15 meter. Dari ujung kedua bambu dihubungkan dengan tali yang cukup besar dan kuat. Di tengah-tengah tali diikatkan tali yang menjulur sampai ke tanah tepat ditengah arena. Pada tali baik yang di sisi maupun di atas bambu diikatkan beberapa kupat dan lepet bagian dari sesaji. Di tengah-tengah atau titik pusat arena ditancapkan gagar mayang (rontek) dengan bendera kertas meliputi emat warna hijau (pengganti warna hitam), kuning, merah dan putih.


Waktu pertunjukan biasanya dilakukan pada malam hari dimulai sekitar jam 20.00 berakhir pada 04.00 pagi hari. Ada dua fungsi pementasan Sandur, pertama dipentaskan di tempat-tempat keramat di mana tempat para tokoh Sadur nyetri dan kedua dipentaskan di tempat umum. Pementasan di tempat keramat dengan tujuan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan mencoba apakah tokoh Sandur sudah mendapat kekuatan tertentu. Pementasan ini dianggap wajib dilakukan pada awal musim pementasan. Sejak dahulu memang selalu begitu tidak berani meninggalkan, karena ada perasan takut bila tidak dilakukan akan mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Penari Sandur terdiri dari empat anak gembala laki-laki yang belum akil balik atau belum dikitan. Empat anak tersebut menjadi tokoh Balong, Pethak, Tangsli dan Cawik sebagai tokoh perempuan. Untuk menjadi penari Sandur mereka harus mengikuti proses yang disebut daden yaitu selama satu minggu mereka disatukan di rumah salah satu sesepuh, tidak boleh ke luar rumah dan berpuasa. Pada saat itu disuruh menghafalkan nyanyian-nyanyian dan dialog-dialog sesuai dengan ceritan dalam Sandur. Pada hari ke tuju mereka diajak keliling nyetri ke tempat-tempat keramat untuk mendapatkan kekuatan tertentu. Setelah mereka selesai mengikuti proses daden baru dapat disebut penari Sandur. Dalam nyetri juga membawa semua peralatan yang bisa dibawa seperti pakaian penari, rontek, tali, jaranan, kendang, gong bumbung agar mendapatkan kekuatan tertentu

Perlengkapan pentas pokok yang digunakan adalah busana penari, gagar mayang atau rontek, gong bumbung, kendang, tali {blabar atau kentheng), dan jaran kepang. Dikatakan pokok karena tidak bisa didapatkan secara mendadak di tempat pertunjukan seperti peralatan lainnya bambu, meja tempat sesaji dan kursi. Untuk uba rampe sesaji dan nasi tumpeng untuk selamatan bisa dipersiapkan dari rumah pimpinan sandur, semua harus baru tidak boleh barang yang sudah dipakai atau barang sisa. Kurang sempurnanya sesaji maupun uba rampe dianggap akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Bersambung ke Kesenian Sandur ( 2 )

Minggu, 09 Juni 2013

BONSAI ART ( 6 )

DINAMIS

Kehidupan dan Perubahan



Materi yang digunakan sebagai medium atau obyek adalah pohon yang hidup dan sebagai salah satu mahkluk hidup, pohon juga mempunyai pola dan bentuk yang berada antara satu dan yang lain atau mempunyai karakteristik tersendiri. Perubahan secara alami dapat saja terjadi di setiap saat, diantaranya yaitu kerusakan pada sebagian anatominya, akan tetapi pohon tersebut masih tetap hidup dan tumbuh. Dengan timbulnya masalah ini maka dapat mempengaruhi terjadi perubahan pada konsep dasarnya yang mengakibatkan sedikit atau banyak merubah bentuk penampilannya.



Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre


Jumat, 07 Juni 2013

PAMERAN BONSAI LAMONGAN 2013

Green Spirit Lamongan 2013


Dalam memperingati hati jadi kota Soto Lamongan ke 444, telah dilangsungkan salah satu agenda adalah pameran bonsai. Kegiatan ini merupakan agenda tiap tahun kota Lamongan. Pembukaan dilakukan oleh Bupati Lamongan, sedangkan pemotongan pita biru putih dilakukan oleh istri Bupati Fadeli, Hj Mahdumah Fadeli. Pameran ini diadakan mulai tanggal 2 Juni 2013 sampai dengan tanggal 8 Juni 2013. Penjurian diadakan tanggal 2 Juni 2013.

Pohon yang dipamerkan sebanyak 232 bonsai yang terdiri dari kelas regional sebanyak 128 pohon,  prospek sebanyak 40 pohon, sedangkan dari Bonsai School Centre sebanyak 57 pohon sedangkan ada peserta khusus exibition sebanyak 7 pohon yang merupakan pohon bonsai yang bagus . Para Peserta terdiri dari berbagai daerah di Jatim seperti Surabaya, Nganjuk, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, Malang, Nganjuk, Bojonegoro dan Madura tercatat mengikuti event tahunan ini. Sedangkan panitia sendiri hanya merencanakan 200 tanaman bonsai. Diluar dugaan bahwa peserta cukup antusias untuk mengikuti pameran ini. Sehingga panitia agak keropotan juga, tapi temen-temen panitia cukup senang. Salah satu bonsai yang masuk the best ten adalah pohon bonsai Landepan milik Dateng.

Pameran tersebut direncanakan akan menghabiskan biaya sebesar 43 juta dan mungkin akan lebih besar dari yang telah dianggarkan karena ada kenaikan biaya operasional yang ada. Dana tersebut didapat dari sponsor, anggaran pemda dan para peserta pameran bonsai serta tidak kalah penting kerja keras panitia untuk menggali dana bahkan bisa keluar dana dari kantong masing-masing.

Disii lain pameran bonsai di kota Lamongan juga cukup unik, yaitu dibarengi dengan seni yang lain yaitu seni Tari. disamping juga ada lomba burung berkicau. 

Penataan sudah cukup bagus, meskipun pohon yang masuk diluar rencana yang ada. Kesiapsiagaan panitia cukup bagus. Kemungkinan yang terjadi sudah bisa diantisipasi.


FOTO SALAH SATU PESERTA




Jenis Tanaman "Elegant" dari  Bpk Diet Bangkalan 

Jenis Tanaman "Landepan" dari Bpk D Cung Jombang

Jenis Tanaman "Sancang" dari Bpk Fredy N Sidoarjo



Selamat Untuk Panitia.

Sabtu, 01 Juni 2013

LOMBA AYAM KETAWA SURABAYA

300 Ayam Ketawa dari Beberapa Daerah Kontes Walikota Cup II

Minggu, 2 Juni 2013 17:28 WIB


SURYA Online, SURABAYA - Sekitar 300 Ayam Ketawa dari berbagai kota di Indonesia mengikuti kontes Ayam Ketawa tingkat nasional Walikota Cup II Surabaya. Mereka di antaranya berasal dari Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Bandung, Puwokerto, Solo, Wonosobo, Jogjakarta, dan beberapa kota di Jatim seperti Sampang dan Pamekasan.


Ketua penyelenggara Kontes Ayam Ketawa Walikota Cup II, Gagat Radityo mengatakan, Kontes Ayam Ketawa tersebut didukung penuh oleh Komunitas Pecinta Ayam Ketawa Surabaya Raya (Kompak Surya). Para peserta kontes bersaing menampilkan atraksi suara khas ayam asli Indonesia.


"Ayam Ketawa ini aset asli bangsa Indonesia. Suaranya bukan rekayasa, tetapi alami ada vibrasinya," kata Gagat di arena kontes Sentra Ikan Bulak Surabaya, Minggu (2/6/2013).

Dijelaskan Gagat, dalam kontes Ayam Ketawa ini ada tiga kelas yang dipertandingkan. Yakni  kelas biasa, kelas dangdut dan kelas show. Adapun metode penilaiannya untuk kelas biasa yakni Ayam Ketawa mendapat waktu untuk bersuara. Selama periode waktu ditentukan akan dihitung berapa kali ayam-ayam yang ditaruh di atas penyangga bersuara lantang.

Sedangkan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, pihaknya menyambut positif kegiatan kontes Ayam Ketawa ini. Karena itu bukti bahwa di Surabaya ada beragam aktivitas dan hobi yang bisa diakomodasi oleh Pemkot Surabaya.

"Kegiatan ini sebagai bukti akomodasi dari aneka hobi komunitas warga. Semakin beragam semakin indah. Kami sebelumnya juga sudah membuka kontes Perkutut, Ayam Serama dan Xansevieira. Kita akan rutin mengadakan event tersebut sehingga ada semacam penghargaan kepada penghobby komunitas," kata Risma.

Kontes satwa, menurut Risma, cukup penting bagi warga Surabaya untuk bisa menjalin silaturrahmi dengan komunitas satwa dari luar kota dan bahkan dari luar pulau.

"Warga Surabaya bisa berkawan dengan teman-teman di luar daerah dan bisa menjadi satu kesatuan," ucap.

Sementara salah satu peserta Kontes Ayam Ketawa, Erna Setyawati mengatakan, kontes semacam ini penting. Selain sebagai ajang untuk melestarikan satwa khas Indonesia, kontes Ayam Ketawa disebutnya sebagai ajang silaturrahmi.

"Bagi saya pribadi yang biasanya sibuk pekerjaan bisa lebih santai menikmati suara ayam. Kontes ini jangan tergantung reward, tetapi untuk refreshing agar awet muda," kata Erna.

Diakui Erna, ia sudah menggeluti hobi memelihara ayam Ketawa selama empat tahun terakhir. Bersama suaminya, ayam-ayam milik mereka dikasih nama penyanyi top sesuai hobi mereka yang menyukai musik. Seperti Ayam Ketawa yang ikut Kontes Ayam Ketawa di beri nama Michael Jackson yang sering memenangi kontes. Dan terakhir menang di kontes di Jember.

Dalam hal memberi minuman ayam Ketawa, Erna tidak hanya memberi Ayam dengan minum air putih, tetapi juga diberi es krim.

"Minuman Pocari sweat juga sering kami berikan untuk menambah semangat ayam Ketawa berbunyi nyaring," tutur Erna.

Penulis : Ahmad Amru Muiz
Editor : Parmin

PENGHOBI BONSAI TUBAN ( 2 )

WENY


Mas Weny  dengan Bonsai karyanya "Serut On The Rock"

Dia orang yang selalu menggerakkan seni bonsai di Tuban. Sekarang sudah menjabat sebagai Humas PPBI Cabang Tuban. Dengan rambut panjang sesuai dengan darah seni yang mengalir. Dia adalah Weny.


Koleksi Tanaman  Bonsai berada di depan rumah

Rumah di Desa Semanding Kecamatan Semanding. Dari perempatan kapur Tuban ke arah selatan sekitar 2 Km. Rumah dijalan raya menuju pemandian Bekti Tuban. 




Sosok penuh energy. Kecintaan terhadap tanaman bonsai cukup tinggi. Merupakan pelopor dan penggerak para penggemar bonsai di Tuban. Makanya dia cocok di tempatkan sebagai Humas di cabang PPBI Tuban. Dia telah menekuni tanaman bonsai mulai sejak tahun 2006. Sebagai orang yang masih muda dan kesukaan tanaman bonsai masih relatif muda juga, tapi ilmu perbonsaian cukup bisa dihandalkan.


Karya Berbentuk Landscape


Disamping aktif di PPBI cabang Tuban, dia sekarang sudah menjadi Juri Tingkat Madya. Dengan bekal ilmu yang didapat bahwa bisa digunakan untuk memajukan ilmu bonsai di Indonesia terutama di kota Tuban.


Karyanya yang sering mendapat bendera

Koleksi bonsai cukup banyak. Terutama serut diatas batu. Sekarang di Tuban lagi banyak bahan serut diatas batu. Bahan manyoritas dibentuk dengan gaya landscape, merupakan panorama kehidupan di hutan.


Mas Weny sedang jadi juri di Lamongan

Jika ingin berkenalan lebih jauh monggo.


Kamis, 30 Mei 2013

BONSAI ART ( 5 )

REKAYASA


Rancang Bangun Karya Seni.



Seni bonsai adalah tatacara pemeliharaan, penataan dan perawatan pohon yang berumur panjang yang dilakukan dipot atau wadah tertentu dengan bentuk miniatur. Pada waktu pengolahan pohon atau disebut sebagai medium bonsai menjadi sebuah karya seni, sungguh sangat memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini disebabkan oleh karena proses pengolahannya harus melalui berbagai tahapan program yang disesuaikan dengan konsep dan pertumbuhan medium, sampai tiba waktu yang dirasakan sudah cukup sempurna untuk ditampilkan.


Sumber : Green & Grow Bonsai Training Centre



Rabu, 29 Mei 2013

SENI TARI

STREAMS OF INDONESIA
TRADITIONAL DANCE

"Karya seni -termasuk tari- selalu merupakan cerminan pengamatan, perasaan, serta aspirasi budaya suatu masyarakat"

Dengan lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang memiliki keanekaragaman budaya dan tradisi, Indonesia mempunyai sekitar 3000 tarian asli yang tak hanya indah, tapi juga memiliki filosofi mendalam. Keberagaman pun telah diakui dunia internasional. 


Seni tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dalam bentuk gerak tubuh serta diperluas melalui kreasi olah seni tinggi. Sebagai alat ekspresi manusia, seni tari memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Tak hanya memancarkan keindahan gerak semata, tapi juga menjadi cerminan filosofi, inovasi, serta kreativitas suatu masyarakat atau bangsa.

Perjalanan Seni Tari Indonesia
Sejarah seni tari Indonesia bermula dari zaman Prasejarah (Masa Neolitikum) sekitar 4000 tahun silam. Saat itu nenek moyang bangsa Indonesia (Austronesia) yang berasal dari Yunnan daerah China Selatan melakukan migrasi dengan perahu bercadik melalui India, Semenanjung Malaya, hingga akhirnya tiba di Kepulauan Indonesia. Bangsa Austronesia yang datang ke Indonesia itu berada dalam kebudayaan Neolitikum dengan ciri kepandaian telah bertempat  tinggal tetap, bersawah, berternak dan bermasyarakat. Dengan kedudukan sebagai petani dan peternak mereka pun memiliki waktu luang untuk berkarya menciptakan kreativitas dalam kehidupan seni - termasuk seni budaya tari.
Namun konsep seni tari mereka jauh berbeda dengan pandangan modern yang kita hayati. Bagi mereka seni gerak tari sebagai bagian upacara ritual dan gerak keagamanaan untuk persembahan, pemujaan, serta meminta perlindungan pada roh-roh suci yang berkuasa. Dari sinilah kita mengenal tari-tarian seperti Tari Perang di Papua oleh suku Dani dan Asmat, Tari Kuda Lumping, Tari Keris, Reog Ponorogo di Pulau Jawa dan Tari Sanghyang Dedari dari Pulau Bali, yang umumnya semua dilakukan dalam kondisi mengalami trance (hilang kesadaran).


Memasuki abad ke-4 masehi sejarah seni tari Indonesia dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Kisal terkenal umat Hindu seperti Ramayana dan Mahabarata menjadi ilham ditanmpilkan dalam pentas seni trai-drama yang disebut Sendratari. Pagelaran Sendratari Jawa Ramayana dipentaskan secara rutin di Candi Prambanan Yogjakarta, sementara sendratari yang bertema sama dalam versi Bali dipentaskan diberbagai Pura di seluruh pulai Bali. Selanjutnya tarian Jawa Wayang Orang mengambil cuplikan pula dari episode Ramayana atau Mahabarata. Begitu pula tari ritual suci Jawa Bedhaya dipercaya berasal dari masa kerajaan Majapahit. Tari ini berasal dari ritual yang dilakukan seorang gadis untuk memuja Dewa-Dewa Hindu seperti Shiwa, Brahma dan Wishnu.


Pengaruh Islam
Seiring masuknya agama Islam ke tanah air, seni tari Indonesia pun kian berkembang luas. Seniman dan penari terus berkreasi dalam filosofi ajaran Islam serta busana yang lebih tertutup sesuai tuntunan Islam. Pergantian ini sangat jelas dalam Tari Persembahan dari Jambi. Penari masih dihiasi perhiasan emas seperti pada masa Hindu-Budha, tetapi pakaiannya lebih tertutup sesuai etika kesopanan berbusana ajaran Islam. Era baru ini membawa gaya baru dalam seni tari. Tari Zapin Melayu dan Tari Saman Aceh menerapkan gaya tari dan musik bernuansa Timur Tengah, dipadukan dengan gaya lokal yang menampilkan generasi baru tarian era Islam. Digunakan pula alat musik khas Ar ab dan Persia, seperti rebana, tambur, dan gendang yang menjadi alat musik utama dalam tarian bernuansa Islam, begitu pula senandung nyanyian pengiring tarian yang mengutip doa-doa Islam.

Tari Rakyat
Diluar sentuhan pengaruh agama Hindu-Budha dan Islam, tarian tradisional Indonesia pun menjadi dinamis sering perkembangan dinamika kehidupan masyarakat. Dari sinilah lahir Tari Rakyat, Tarian yang dikembangkan dan didukung rakyat kebanyakan, baik dipedesaaan maupun diperkotaan. Tari Rakyat Indonesia lebih dinamis, enerjik, dan relatif  lebih bebas dari aturan yang ketat dan disiplin tertentu. Di sisi lain tarian rakyat lebih memperhatikan fungsi hiburan dan fungsi sosial pergaulan dari pada fungsi ritual. Beberapa yang populer yaitu Tari Ronggeng dan Tari Jaipongan Suku Sunda. Keduanya adalah tari pergaulan yang bersifat hiburan. Beberapa tari rakyat tradisional telah dikembangkan menjadi trian masal dengan gerakan sederhana yang tersusun rapi, seperti tari Poco-poco dari Minahasa, Sulawesi Utara dan Sajojo dari Papua.
Perjalanan seni tari tradisional Indonesia terus berkembang dan dilestarikan. Ekpresi gerak dan jiwa yang lahir dari perjalnan sejarah yang panjang, pengalaman serta seni budaya bangsa Indonesia yang luhur terus terpencar dan dikagumi keindahannya tak hanya didalam negeri, tapi juga di luar negeri (mancanegara).


Sumber : TERRASSE ( PERSEMBAHAN EKLUSIF BANK BRI )

Sabtu, 25 Mei 2013

PENGHOBI BONSAI TUBAN ( 1 )




WARSIS


Siapa yang tidak kenal dia. Sosok sederhana. Apa adanya. Hobi bonsai merupakan kegemaran dan merupakan salah satu bisnis dia. Ketelitian dan ketelatenan dalam mengolah tanaman kerdil ini membuat prestasi yang bagus. 

Tanaman Bonsai Serut Super Besar Koleksi Warsis
Dia adalah Warsis. Pria dengan penampilan yang apa adanya ini agak malu jika mau diwawancarai tentang bonsai. Setiap ngobrol sama dia, tidak sungkan-sungkan dia akan mengeluarkan ilmu yang dipunyai tanpa ada yang disembunyikan. Dia akan bercerita selama pengalaman yang dialami. Sebagai guru bonsai yang tidak pernah mau dibayar.

Tanaman Bonsai Milik Orang lain yang dirawat
Disamping bonsai dia juga bisnis dibidang pot. Banyak pot yang telah dijual dan hampir semua pot dia dipakai oleh para penghobi bonsai di kota Toak ini. Bahan cukup kuat dan bagus. Dia bisa menerima pesanan yang sesuai dengan selera pembeli atau penggemar bonsai. Hasil cukup halus. Kwalitas sudah tidak bisa diragukan. Pernah suatu saat pot itu jatuh sekitar satu meter. Betul-betul tidak pecah. Sungguh luar biasa. Para penghobi bonsai dari Tuban tentu akan kenal dengan dia. Kesederhanaan dialah sehingga banyak temen-temen yang datang ke rumahnya.


Warsis sedang merawat bonsai

Sekarang rumah di Desa Bejagung Kecamatan Semanding Tuban. Jika mau kerumah bisa menuju perempatan kapur (dulu ada pabrik kapur didekat perempatan itu). Menuju ke arah selatan sekitar 1,7 Km. Dengan ditandai bengkel mobil mas Pri masuk belok ke kiri masuk kedalam gang. Mobil bisa masuk. Disitu bisa tanya rumah Pak Warsis. Gampang aja.

Bengkel Pot yang berada dibelakang rumah

Rumah sederhana. Dihalaman rumah penuh dengan tanaman bonsai. Ada punya sendiri dan ada para penghobi bonsai yang dititipan untuk dirawat atau disekolahkan kata banyak orang.


Koleksi Warsis Tanaman Bonsai Serut on the rock
Koleksi bonsai terbanyak adalah tanaman serut. Terutama serut diatas batu. "Dulu mudah mencari serut diatas batu, sekarang susah, sudah banyak gunung yang sudah diambil" kata Pak Warsis. Tapi banyak lagi yang lain. Ada tanaman Loa, Santigi, Kawista dan banyak lagi yang lainnya.

Produksi Pot yang setengah jadi

Dia menekuni tanaman bonsai sudah sekitar 20 tahun. Sejak dia belum nikah dulu, padahal anak dia yang pertama sudah lulus SMA. Dari bisnis bonsai dan pot bonsai ini bisa membiayai hidupnya selama ini.

Sebelum menekuni bonsai, dia bisnis tanaman hias. Suka tanaman memang sejak dahulu atau masih muda. Ini yang mendorong dia untuk melestarikan tanaman bonsai dan membuat pot sekalian.

Produksi Pot
Itulah sosok pebonsai Tuban yang penuh dengan kesederhanaan. Jika diskusi monggo datang ke rumahnya.






Semoga tanaman bonsai tetap selalu dikenang dalam hati. Salam Bonsai.


Senin, 20 Mei 2013

POHON PEPAYA

BIJI SAMA HASIL BEDA


 Pengalaman saya beberapa bulan yang lalu dan hasilnya sekarang ini. Saya membeli buah pepaya kemudian dibuka dan saya benihkan. Satu bulan kemudian saya tanam di tanah. Ternyata hasil buah pepaya tersebut berbeda. Ada berupa pepaya gantung, bulat dan lonjong.



Ini buah pepaya yang sesuai dengan induknya


 
Pepaya yang menyimpang tetapi masih berbuah




















Pepaya yang menyimpang karena sudah menjadi pepaya gantung tidak berbuah, hanya berbunga saja



Semoga hal ini bisa menjadi renungan kita, terutama saya pribadi.