Jumat, 18 Oktober 2013

ALAM SEBAGAI GURU ( 1 )

BELAJAR PADA ALAM

Hidup adalah suatu pergulatan. Pergulatan kita menghadapi situasi yang mengelilingi kita. Menghadapi diri kita sendiri. Menghadapi perasaan dan pemikiran kita. Terkadang pergulatan itu sedemikian menyibukkan kita, sedemikian riuh memenuhi hidup kita sehingga kita pun buta, tuli dan tidak lagi mampu merasakan aroma alam yang telah diciptakanNya. Semilir angin. Udara dingin. Lanskap bumi. Langit malam. Bintang. Purnama. Rerumputan yang basah karena embun di kaki kita. Kapankah terakhir kali kita menikmatinya? 

Fajar telah tiba kini. Aku berdiri sendirian di tepi danau Tondano yang telanjang di depanku. Langit berubah jingga. Aku menghirup udara segar yang mengelilingiku. Eris... Eris. Mengapakah keindahan dan kenikmatan ini demikian mudah untuk dilupakan dan dilalaikan? Mengapakah kita seringkali hanya terkungkung di dalam ruang sempit tembok putih sambil sibuk terus mengatur tumpukan kertas di atas meja kerja kita? Tak sadarkah kita betapa banyak hal yang telah kita lalaikan hanya demi mengejar impian semu tentang kenikmatan hidup? 



Aku terkenang pada seorang sahabatku. Dia yang pernah mengatakan bahwa hidup hanyalah sekedar masalah jual beli dan menikmati hasilnya. Apakah hanya itu yang kita kejar? Jika demikian, bertanyalah kepada semilir angin yang menghembus wajahmu. Apakah dia dijual? Dapatkah dia dibeli? Ataukah kita hanya senang dengan dingin buatan dalam ruang ber-AC atau pengaruh kimiawi yang membuat kita bergoyang dalam hentakan musik yang bertalu-talu namun tak bernada. Atau percintaan sesaat yang tidak menyisakan apa-apa selain dari kehampaan yang kian menyeret jiwa kita ke dalam kesunyian abadi. 



Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Allah yang telah membentuk kita dari debu dan memberikan nafasNya kepada kita agar hidup dan berkuasa di atas bumi ini. Maka kita ditugaskan untuk menjadi penguasa yang sempurna. Penguasa yang bukan hanya ingin menikmati dunia tetapi juga sanggup memeliharanya. Kita ditugaskan untuk bergulat melawan segala niat dan keinginan kita sendiri untuk memakan pohon pengetahuan itu. Namun telah menjadi takdir kita untuk mengikuti segala keinginan dan ambisi kita. Maka kita pun melupakan segenap alam yang telah diberikan kepada kita hanya untuk mengejar kepentingan diri kita. Maka kita pun harus menerima resikonya dengan penuh tanggung jawab. Kita harus bergulat untuk menghadapi diri kita sendiri. 



Maka saat memandang riak air di tepian danau yang indah ini, aku mengenang perjalanan hidupku dalam waktu sepenggal yang telah diberikanNya. Alam. Tidakkah indah menikmatinya jika kita mampu menjaga dan merawatnya. Sedihnya, kita sering hanya dapat menulis dan menanda-tangani kertas-kertas di dalam ruang berpendingin buatan untuk mengubah alam itu menjadi tandus dan gersang. Hanya demi mengisi pundi-pundi kita saja. Atau demi kesenangan sesaat kita saja. Karena kita tidak pernah menikmatinya. Dan tidak akan pernah lagi. 



Hidup adalah suatu pergulatan. Dan bukan sekedar jual beli dan menikmati. Sebab toh, tak ada lagi gunanya memiliki harta sebesar apa pun juga jika bumi telah menjadi tandus. Kekeringan melanda. Banjir. Longsor. Lumpur. Maka memang, kita hidup tidak hanya demi roti saja tetapi juga untuk menemukan kebenaran yang telah disembunyikanNya di balik keindahan alam ini. Mega berarak. Lambaian pepohonan palma. Kebiruan air. Kebiruan bukit dan pegunungan di kejauhan sana. Kebiruan langit. Kebiruan alam. Maka betapa teduhnya jiwaku saat meresapi segalanya itu.......






Sumber : pondokrenungan.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Jika Anda memberikan saran dan pendapat