Sabtu, 28 September 2013

BONSAI PILIHAN



Anting Putri Primadona Baru Pebonsai


Anting putri alias Wrightia religiosa mempunyai keunikan tidak berhenti memamerkan keindahan bunganya, baik pada musim penghujan maupun kemarau. Ia cocok sekali sebagai tanaman lansekap di halaman rumah dan tanaman pot ketika masih kecil.

Warna bunganya putih dan peach, tapi yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah yang berwarna putih. Kemampuan tumbuhnya sangat kuat. Di mana saja anting putri ditempatkan, ia bisa tumbuh. “Saking mudahnya tumbuh, potong dan tancapkan batangnya pada media tanah akan tumbuh, bahkan di air sekalipun,” kata Ricky Hadimulya, pemilik Hara Nursery di bilangan Parung, Bogor.
Tanaman asli Sri Lanka ini cocok sekali dengan kondisi panas. Karena itu bila ia ditanam di dataran tinggi dan berhawa dingin, pertumbuhannya tidak akan sebaik di daerah panas. Yang unik, daun dan bunganya semakin terlihat indah saat dijadikan bonsai.

Dipilih Jadi Bonsai
Akhir-akhir ini mulai banyak permintaan terhadap tanaman bonsai anting putri. Pecintanya mulai menobatkan anting putri sebagai primadona baru bonsai. Memang belum banyak yang mengenal tanaman ini terutama di kalangan pecinta tanaman hias pemula. Sebaliknya para kolektor tanaman bonsai sudah berlomba untuk memilikinya.
Beberapa kolektor tanaman hias di luar kota Jakarta dan sekitarnya sudah banyak yang mencari anting putri berbentuk bonsai. Mereka memilih yang berbunga dan daun kecil supaya kalau dibonsai bisa menghasilkan tanaman dengan bentuk seimbang. “Bunga kecil dan daun kecil memberikan keseimbangan dalam bentuk bonsai. Bunganya terlihat cantik dan berwarna putih menggantung. Bunga inilah yang bisa memberikan daya tarik bagi yang melihatnya,” jelas Ricky.
Menurut Andi Eko S., manajer kebun di Hara Nursery, meskipun bisa tumbuh di mana saja tapi untuk memelihara anting putri sebagai bonsai perlu ketelatenan terutama dalam pertumbuhan batang dan daunnya. “Bentuk tanaman yang dikerdilkan ini akan butuh ketelitian dalam pemangkasan tidak boleh dilakukan secara sembarangan, sebab bisa merusak bentuk tajuknya dan tidak sesuai dengan keinginan,” paparnya. Andi menyarankan, pilih anting putri dengan batang yang kuat dan bentuknya unik. Alasannya, agar saat batangnya dibentuk menggunakan lilitan kawat, tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.
Sementara itu, Asep pedagang tanaman hias di kawasan Parung, membeberkan, permintaan terhadap anting putri bukan cuma sebatas yang bentuk bonsai saja tapi juga yang sudah disambung. Ini terutama terjadi di daerah Yogyakarta, Solo, dan Karanganyar. Namun ia sendiri hanya menyediakan bonsai sesuai pesanan saja, sementara yang berbentuk sambungan cukup banyak.
Asep mematok harga anting putri per pot antara Rp15.000—Rp25.000. Sedangkan yang disambung tergantung tinggi tanamannya, yang termahal Rp600 ribu. Sementara yang sudah berbentuk bakalan bonsai dijualnya Rp1 juta—Rp2 juta per pot.
Perawatannya Lebih Mudah
Anting putri sangat mudah dirawat. Selain suka air, tanaman ini pun relatif tahan terhadap hama penyakit. “Meski disiram berkali-kali dalam satu hari tidak ada pengaruh apapun terhadap akarnya,” kata Andi.
Selain itu batang tanaman akan cepat membesar bila ditanam di halaman. Perawatannya pun tidak serewel bonsai. Kendati demikian kalau memajangnya sebagai penghias rumah tetap harus diupayakan agar tumbuh dengan baik. Bila ditanam sebagai tanaman pot, yang perlu diperhatikan adalah media tanamnya harus sarang (porous). “Campuran pasir, tanah, dan humus juga bisa campuran akar sekam bakar, dan kokopit serta sedikit tanah,” saran Andi. 
Andi membagi tipsnya sebagai berikut. Saat awal penanaman sebaiknya diberi kawat pengikat agar tumbuhan tetap tegak, sebab akar pada media tanam yang baru cenderung masih kurang kuat menahan tanaman. Kemudian diamkan tanaman di tempat yang teduh, kurang lebih dua minggu dan siram sekali sehari pada pagi hari atau sore hari. Setelah dua minggu, letakkan tanaman di halaman yang terkena matahari penuh.

Sedangkan kalau ditanam di halaman, media tanam yang cocok adalah tanah gembur dicampur pupuk kandang yang sudah lapuk ditambah tanah liat secukupnya. Tanah liat atau tanah lempung berguna agar media tetap lembap dan mengurangi penguapan.


SUMBER : AGRINA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Jika Anda memberikan saran dan pendapat