Senin, 02 September 2013

JUORNY MADURA

BERBURU BONSAI DI PULAU GARAM

Pulau Madura selaindikenal sebagai pulau penghasil garam juga dikenal masyarakat bonsai sebagai pulau penghasil bahan bonsai berkualitas. Hal ini mengundang rasa penasaran penulis untuk mengunjunginya. Awal tahun 2009 penulis berkesempatan mengunjungi pulau ini.

Pulau Madura terletak di sisi timur bagian utara pulau Jawa, terpisah oleh selat Madura Sehingga untuk mengunjunginya kita harus menumpang kapal dari Tanjung Perak sebelum jembatan Colomandu yang merupakanjembatan terpanjang diIndonesiaini jadi. Secara administrasi Pulau Madura masukdi dalam wilayah Propinsi Jawa Timur, terdiri dari 4 Kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pulau ini di kelilingi oleh laut sehingga pantas pulau ini di kenal sebagai pulau penghasil garam terbesar di Indonesia, selain memang di sini terdapat perusahaan terbesar pembuat garam yakni Perum Garam. Sepanjang jalan kurang lebih 50 KM dari Pamekasan sampai Sumenep terbentang hamparan luas kolam pembuatan garam.

Pameran Bonsai Nasional akhir Oktober 2008 di Pamekasan seolah membuka wawasan penghobi bonsai di Indonesia tentang Madura. Peserta Pameran yang mencapai 490 peserta menjadi catatan tersendiri sebagai Pameran Bonsai dengan jumlah peserta terbesar. Kualitas Bonsai juga sangat meningkat menunjukkan bahwa perkembangan seni bonsai di wilayah Timur Indonesia ini dapat bersaing dengan bonsai dari wilayah baratIndonesia utamanya Jakarta yang telah lama menjadi sentra bonsai terbesar di Indonesia.

Telah lama diketahui bahwa pulau ini dikenal sebagi penghasil bahan bonsai cemara udang dan santigi terbaik.
Sentra perburuan terbesar bahan santigi ada di Kabupaten Sumenep di wilayah kecamatan Kalianget. Di daerah ini banyak sekali masyarakat yang bekerja menggantungkan hidupnya dari bahan bonsai santigi, mulai dari pemburu adalah pencari bahan bonsai yang berburu ke pulau-pulau sekitar Madura bahkan sampai ke Pulau Sulawesi, pengepul adalah mereka yang merupakan pembeli pertama dari para pemburu, trainer adalah mereka yang mengolah bahan menjadi bahan setengah jadi ataupun barang jadi atau bahkan hanya sekedar merepoting bahan ke pot,dan pedagang adalah mereka yang membeli dan menjual barang-barang tersebut dari para pengepul yang ada di wilayah tersebut, biasanya mereka menghubungkan dengan para kolektor bonsai ataupun dengan pedagang lainnya. Kesan pertama melihat ribuan pot bahan santigi begitu tak percaya, bahan santigi yang merupakan barang langka di daerah lain, ditempat ini tersedia melimpah. Soal harga, mereka mematok harga standar tinggi sehingga walau barang melimpah mereka tidak pernah untuk menjual barangnya secara obral. Mungkin inilah salah satu cara menjaga image harga bahan bonsai santigi tetap tinggi.

Penulis sempat mengunjungi beberapa pengepul santigi di Kalianget, rata-rata mereka membeli bahan dari para pemburu bonsai langsung secara borongan. Selanjutnya mereka mengklasifikasi bahan tersebut menjadi tiga klass. Klas A merupakan klasifikasi terbaik dengan harga paling mahal, klass B merupkan klasifikasi di bawahnya sedangkan klas C merupakan klas terendah yang dijual dengan harga paling murah. Setelah barang diklasifikasi tahap selanjutnya adalah merepoting pohon tersebut dalam pot. Tampaklah bahan-bahan bonsai ini lebih baik dalam pot bonsai yang sudah mereka persiapkan. Untuk klas A walau harganya sangat mahal, rata-rata tidak butuh waktu lama untuk menjualnya, selain dibeli oleh para kolektor di pulau Madura sendiri , ada beberapa dari bahan tersebut dibeli oleh kolektor dari luar pulau Madura.



Puas jalan-jalan melihat-lihat bahan santigi di Kalianget, kami penasaran untuk melihat daerah budidaya cemara udang terbesar di Pulau Madura. Masih di wilayah Sumenep, bagian paling utara dan paling timur dari Pulau Madura, kurang lebih 60 KM dari Ibu kota Sumenep. Setelah 1,5 jam perjalanan dari Ibukota Sumenep kami sampai di Pantai Lombeng, tempat budidaya cemara udang. Untuk sampai di daerah ini kami melewati beberapa daerah sentra penjualan bahan bonsai. Rata-rata dari mereka menjual bahan-bahan bonsai alam utamanya pohon pegunungan seperti: rukem, mustam, serut, ki besi, sisir dan jenis pohon gunung lainnya. Mereka menawarkan dengan harga yang relative lebih murah jika dibandingkan dengan membeli pohon tersebut di daerah lain karena memamang jumlah yang melimpah dan persaingan cukup ketat di antara para pedagang di sini. Beberapa dari pedagang juga menjual pohon-pohon untuk taman yang telah dibuat menjadi topiary dengan harga yang relative murah juga.

Hamparan pasir putih dengan pantai yang cukup landai menjadi pemandangan utama pantai Lombeng. Ombak yang tidak terlalu besar dengan hiasan ribuan pohon cemara udang yang telah berusia ratusan tahun menjulang tinggi di sepanjang pantai menjadikan suasana asri di pantai ini. Tidak sampai di sini saja kekaguman saya, ratusan bibit, bahan bonsai dipajang di sepanjang pulau ini, dijajakan kepada pengunjung pantai di pulau ini. Mereka membudidayakan cemara udang dilahan berpasir disekitar pantai Lombeng. Kami sempat mengunjungi tempat tersebut, padangpasir luas yang biasanya kami melihat di pantai-pantai lain di luar pulau Madura, menjadi sangat lain jika di bandingkan dengan padang pasir yang ada di pulau Madura. Hamparan hijau daun cemara udang terpampang jauh sampai batas penglihatan, seolah tak ada akhirnya. Kita akan dengan mudah untuk mendapatkan berbagai ukuran, bentuk, umur dari pohon tersebut di padang pasir ini. Kita tinggal milih, tunjuk, dan bilang kepada pemilik lahan tersebut untuk mengambilnya dari lahan tersebut apabila harga telah cocok. Apabila kita malas untuk berburu dengan cara seperti itu, kita juga bisa langsung membeli kepada para pedagang yang telah menjajakannya di pinggir jalan sepanjang jalan menuju pantai Lombeng.

Seperti telah di atur oleh Tuhan, kita tidak akan pernah mendapatkan santigi di pantai ini dan sebaliknya kita takkan pernah dapat cemara udang di Kalianget. Jadi untuk mendapatkan keduanya kita harus mengunjungi sendiri-sendiri.

Akhir dari perjalanan ini adalah , kami mendapatkan berbagai macam pohon bonsai yang sangat baik yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya, 76 bahan santigi, 26 cemara udang, 7 serut dan 3 pot ki besi menjadi oleh-oleh yang sangat bernilai bagi kami. Bukan itu saja pesona dan khasanah wisata pulau ini senantiasa menjadi buah rindu untuk penulis, sambil melepas cepetran kamera digital terakhir kami, penulis berjanji untuk mengunjungi pulau ini, Segera!


Sumber : Blogsenja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Jika Anda memberikan saran dan pendapat